An evening by the sea.

IMG_20190704_101358

That was both the most beautiful and saddest evening I’ve experienced. It was all because of the sound of the sea, birds call, and a friend told us to go home. And the sunset…did its best to stop us, to look at it with smile and grateful heart. But it was time. I left that evening–with all the calming trees and ruined old buildings–behind.

And with this, I delete all my archived posts.

Advertisements

3 Rangkaian Serial Fantasi Terbaik Tere Liye.

Percaya atau enggak, ini pertama kalinya aku baca buku karya Tere Liye. Namanya sudah lama akrab di telinga dan judul-judul karyanya sudah sering berseliweran di depan mata tapi belum ada yang menggerakkan hati aku untuk mengambil bukunya dari rak di toko buku dan membedah isinya (aku, yang selalu cenderung melibatkan hati–termasuk dalam membaca buku).

Continue reading “3 Rangkaian Serial Fantasi Terbaik Tere Liye.”

Sabtu berilmu.

Sabtu kemarin dapat banyak ilmu! Setelah hampir tiga tahun tidak pernah “belajar di kelas”, kemarin aku menghadiri dua acara yang membuatku merasa sebagai mahasiswi lagi, hehe. Yang pertama kelas menulis perjalanan dengan Nulis Buku, lalu peluncuran buku Lima Cerita-nya Desi Anwar.

Continue reading “Sabtu berilmu.”

Wawancara di Balik “Romansa Dalam Karya Sastra”.

DzWAoPEUcAAY1yt
photo by bernard batubara

Beberapa waktu lalu, aku mendapatkan kesempatan mewawancarai Bernard Batubara untuk artikel di majalah. Wawancara ini bisa dibilang yang paling berkesan karena selain merupakan penulis favorit, jawaban-jawabannya sendiri membekas banget buatku. Mungkin ini karena minat pribadiku yang begitu besar terhadap karya sastra, mendengar jawaban-jawaban yang berkenaan dengannya dari pertanyaan yang aku buat sendiri rasanya jadi sangat menyenangkan. Rasanya juga sayang jika jawaban-jawaban yang informatif ini aku simpan sendiri. Tulisanku yang dipublikasi di majalah tidak cukup meng-cover semuanya karena keterbatasan layout, sih.

Dan kalau boleh jujur, wawancara dengan Bernard Batubara menjadi yang paling berkesan karena setiap pertanyaan dijawab dengan begitu thoughtful dan panjang. Bukan berarti yang lainnya tidak menjawab dengan baik, tapi Bernard Batubara ini menjawab dengan jawaban yang mengajak berdiskusi.

Ngomong-ngomong, maafkan pertanyaan nomor tujuh tentang cinta yang hakiki yang sepertinya melenceng, ya. Aku tergelitik untuk bertanya soal ini pada seorang penulis yang tulisannya notabene aku amini. Hehe.

Berikut wawancaranya di bawah kalau kamu mau baca 🙂

Continue reading “Wawancara di Balik “Romansa Dalam Karya Sastra”.”

Seperti bulan Februari.

Februari selalu pergi untuk kembali. Karena tanpanya, tidak akan ada Maret dan tahun kabisat. Februari ada untuk dinantikan seorang gadis yang jatuh cinta kepadanya. Katanya, bulan ini selalu membuatnya bahagia,

Dan sedih di saat yang sama.

Itulah keistimewaannya. Memori yang singkat terkadang lebih mengorek relung hati terdalam.

Mungkin, benakmu terlalu terbuai dengan lamanya waktu. Pikiranmu mengangkasa pada jutaan detik yang menjadi kumpulan tahun. Padahal, kenangan hanya membutuhkan ruang kosong untuk tersulam. Pada rentang waktu yang terbilang singkat, keindahan juga bisa membekas dengan nyata.

Seperti 28 hari yang cantik,

Seperti yang terpendek dalam satu tahun yang berkesan,

Seperti bulan Februari.