A letter of spring.

So I told you I want to write a letter; I did. Sent it all the way to Lombok, to one of my dearest friends. Can’t tell you how happy I am 😊

September is a month of autumn (esp. in Japan), but I named this letter “a letter of spring”.

The leaves fall in the autumn so they can give a message for flowers to bloom in the spring. This thought made me see autumn as a kind of hope.

And I hope, from the bottom of my heart, that spring will reach you soon.

Remember: It falls, and it blooms.

“In nature, the landscape love magnificent. The trees, which seemed so similar before, take on their own personalities and paint the forest in a thousand different shades. One part of the cycle of life is coming to an end. Everything will rest for a while and come back to life in the spring, in the form of flowers.”

–Paulo Coelho

Anyway, Lombok is indeed the farthest destination I’ve ever sent a letter to.

:’) My pray and thoughts are always with Lombok. With this simple letter, I hope another worry and doubt will be replaced with happiness.

The simplest things could make you happy, though. For me, letter is one of those things. The real form of a letter could make me see the love along with the message more clearly, since it sent with such an effort of handwriting.

This is another sample of happiness I’ve got so far. A letter from my bunso in Philippines:

You see how different you’d feel when you read the “love” in a form of a letter than just a text message? 🙂

P/s: In Tagalog, “bunso” means younger sister, “ate” means older sister.

A letter of spring is simply a representation of letters that bring happiness to the receiver. Don’t you agree?

Advertisements

Little things to keep me happy.

Kalau kamu masih bisa bahagia dan excited dengan prospek membaca novel baru yang sedang kamu incar, atau menonton film favorit yang akan segera tayang, atau pergi ke suatu tempat yang bagus pada hari kemudian, then congratulation: your life is okay.

Beberapa orang di luar sana enggak bisa melihat kebahagiaan dari hal-hal kecil seperti itu. Jadi, kalau masih ada hal-hal kecil yang buat kamu bahagia, could it be someone beside you or your family or whatever, embrace it. Walaupun pada hakikatnya, bahagia itu datangnya dari diri sendiri.

Belakangan ini aku sering banget mendapati diri menahan tangis. Penyebabnya bisa macam-macam, tapi biasanya karena sesuatu yang buatku sangat sentimentil. Sesuatu ini kayak punya koneksi langsung sama hati, ajaib banget ketika dia langsung bereaksi padahal otak tidak memerintahkan apa-apa.

Tapi aku bahagia, karena aku sadar kalau sebenarnya hidupku baik-baik saja. Sulit, tapi baik-baik saja. Aku masih bisa memikirkan begitu banyak hal dan rencana untuk membahagiakan diriku sendiri.

Dan…aku mau menggunakan hal-hal kecil ini untuk lebih membahagiakan diri.

Continue reading

A conversation one day.

– What do you like most about me?

+ Your ability to love people wholeheartedly.

– Hmm… why?

+ I don’t know. You look so bright when you fall in love, just like your name; Sunny. It’s like I can see the light from every bit of your bones.

– Even now?

+ Yes. Even now.

– I want to hide it.

+ Why?

– It makes people take me for granted. That it’s okay to leave me, and hurt me.

+ No. It makes me want to protect you more.

_20180706_065029684274834.jpg

Image Source: Instagram

Tahapan rindu.

Baru saja terpikirkan beberapa tahapan–jenis rindu. Harus dituangkan di blog agar tidak lupa, entah teori ini diterima atau tidak.

Satu, rindu yang menyenangkan. Ditujukan untuk orang yang benar-benar membuatmu nyaman. Memikirkannya membuat hatimu berbunga-bunga, lalu tersenyum sendiri bahkan tanpa kamu sadari. Memikirkannya membuatmu merasa aman, membuatmu sejenak tidak memedulikan segala hiruk pikuk dunia atau kekhawatiran lainnya. Dia ada di situ, kamu rindukan…dan merindukanmu.

Dua, rindu yang menyebalkan. Ini untuk orang yang paling kamu pedulikan, yang karena beberapa hal belum bisa kamu temui atau hubungi seperti biasa, dan kamu tidak tahu apa yang dia rasa–merindukanmu juga atau tidak. Rindu ini menyebalkan, tapi dapat langsung terobati ketika sudah bertemu orang yang bersangkutan. Dan segala kekhawatiran sirna setelah hari yang menyenangkan.

Tiga, rindu yang menerbangkan angan. Kamu pergi ke suatu tempat, mendengar suatu lagu, atau melihat suatu hal yang mengingatkan kamu akan seseorang. Kamu rindu, teringat saat itu, lalu rindu itu hilang, seperti angan yang sudah terbang.

Empat, rindu yang menyesakkan. Melihat apa pun, pergi kemana pun, membuatmu teringat olehnya. Ada saja suatu hal yang menghubungkan ingatanmu tentangnya. Rindu ini sesak karena kamu tahu…itu semua tidak akan bisa terulang lagi, tapi kamu masih menginginkannya.

Lima, rindu yang ingin melupakan. Memikirkan orang itu terlalu menyakitkan sehingga kamu tidak mau membicarakannya lagi. Kamu membangun pertahanan diri, membangun dinding untuk menghalangi cahaya rindu yang dengan bandel ingin menyeruak masuk.

Kamu, sedang berada pada tahapan rindu yang mana saat ini? 🙂

Setiap tempat adalah kenangan.

Ketika kamu pergi ke suatu tempat, tempat yang kamu datangi tidak akan lagi terasa sama seperti saat pertama kali kamu mengunjunginya. Ada sesuatu yang bertambah di sana: kenangan bertemakan seseorang yang melebur jadi satu bersama tempatnya.

Jalan raya yang kamu lewati bukan hanya sekadar jalan raya lagi, tapi jalan dimana kamu akan tersenyum simpul mengingat betapa cerahnya siang hari itu saat bergurau bersamanya sambil melaju di atas kendaraan roda dua.

Pantai yang terlihat sama saja dengan pantai mana pun juga bukan sekadar pantai lagi, tapi tempat dimana dia pernah menumpahkan segala keresahan di hatinya padamu, dengan sejujur-jujurnya. Dan kamu menatap matanya, dengan seteduh-teduhnya, memberitahu padanya bahwa semua akan baik-baik saja.

Taman bermain yang selalu bising dengan suara–musik, teriakan gembira, dan tawa–nanti akan dipenuhi oleh suaranya saja: tawa renyah, dan nyanyian dengan lirik asal yang spontan dia ciptakan mengikuti nada musik yang diperdengarkan.

Kamu juga akan melihat sosoknya yang tersenyum di tengah taman bunga, dan menyadari bahwa betapa hari akan lebih indah jika pemandangan itu ada lagi di sana. Seolah kehadiran bunga-bunga di tempat itu tidak akan lengkap tanpa melihat senyumnya.

Epic Journey in Bandung

Ini adalah kunjunganku yang ke sekian kalinya ke Bandung. Kota yang dikenal sebagai dataran Sunda ini memang tidak akan pernah kehilangan predikat layak untuk dikunjungi. Apalagi, jaraknya yang tidak jauh dari Jakarta adalah solusi terbaik untuk masyarakat Ibu Kota yang membutuhkan liburan tanpa menghabiskan biaya terlalu banyak (he he).

Continue reading