Wawancara di Balik “Romansa Dalam Karya Sastra”

DzWAoPEUcAAY1yt

photo by bernard batubara

Beberapa waktu lalu, aku mendapatkan kesempatan mewawancarai Bernard Batubara untuk artikel di majalah. Wawancara ini bisa dibilang yang paling berkesan karena selain merupakan penulis favorit, jawaban-jawabannya sendiri membekas banget buatku. Mungkin ini karena minat pribadiku yang begitu besar terhadap karya sastra, mendengar jawaban-jawaban yang berkenaan dengannya dari pertanyaan yang aku buat sendiri rasanya jadi sangat menyenangkan. Rasanya juga sayang jika jawaban-jawaban yang informatif ini aku simpan sendiri. Tulisanku yang dipublikasi di majalah tidak cukup meng-cover semuanya karena keterbatasan layout, sih.

Dan kalau boleh jujur, wawancara dengan Bernard Batubara menjadi yang paling berkesan karena setiap pertanyaan dijawab dengan begitu thoughtful dan panjang. Bukan berarti yang lainnya tidak menjawab dengan baik, tapi Bernard Batubara ini menjawab dengan jawaban yang mengajak berdiskusi.

Ngomong-ngomong, maafkan pertanyaan nomor tujuh tentang cinta yang hakiki yang sepertinya melenceng, ya. Aku tergelitik untuk bertanya soal ini pada seorang penulis yang tulisannya notabene aku amini. Hehe.

Berikut wawancaranya di bawah kalau kamu mau baca 🙂

:

Continue reading

Advertisements

Seperti bulan Februari.

Februari selalu pergi untuk kembali. Karena tanpanya, tidak akan ada Maret dan tahun kabisat. Februari ada untuk dinantikan seorang gadis yang jatuh cinta kepadanya. Katanya, bulan ini selalu membuatnya bahagia,

Dan sedih di saat yang sama.

Itulah keistimewaannya. Memori yang singkat terkadang lebih mengorek relung hati terdalam.

Mungkin, benakmu terlalu terbuai dengan lamanya waktu. Pikiranmu mengangkasa pada jutaan detik yang menjadi kumpulan tahun. Padahal, kenangan hanya membutuhkan ruang kosong untuk tersulam. Pada rentang waktu yang terbilang singkat, keindahan juga bisa membekas dengan nyata.

Seperti 28 hari yang cantik,

Seperti yang terpendek dalam satu tahun yang berkesan,

Seperti bulan Februari.

Hanya ingin dia.

Aku tidak terlalu pandai matematika, tapi (katanya) aku pandai mengolah kata. Memiliki pasangan yang lihai dengan angka adalah keinginan yang dulu kubayangkan dengan naifnya. Kami akan menjadi pasangan yang saling melengkapi, anak-anak kami akan memiliki guru terbaik di rumah dan mewarisi dua ilmu dasar yang penting ini.

Continue reading