The Promise

lagi rajin update blog nih (mumpung ada kesempatan) 😀

aku utamakan untuk posting cerpen-cerpen yang pernah kutulis (seperti yang aku bilang sebelumnya..aku mau membuat semacam jejak kepenulisanku di sini) agar nanti bisa lihat dan “ngeh” gimana perkembangannya :3 dan agar suatu saat nanti saat udah berhasil jadi penulis terkenal (aamiin ! ) orang lain bisa baca gimana tulisan-tulisanku terdahulu 🙂 untuk menunjukan pada mereka bahwa segala sesuatu dimulai dari mimpi dan usaha serta kemauan untuk belajar. aku yakin penulis-penulis yang terkenal sekarang ini memulai prestasinya dengan demikian: mereka juga belajar. mereka juga memulainya dari titik nol. untuk menjadi penulis yang hebat itu ga bisa langsung lho ya..ada prosesnya karena jadi penulis yang baik itu ga mudah 😉

saat itu aku tulis cerpen ini untuk mengikuti “three words hall” (udah cerita ya mengenai itu di postingan sebelumnya)

tema 3 katanya: janji, takdir, dan menikah.

jadilah cerpen ini..pertama kalinya ikut TWH dan alhamdulillah masuk 3 besar :’) walopun bukan kompetisi ato perlombaan resmi..tapi yang kayak gini nih yang bikin semangat nulis ^^/ rasanya seneng aja kalo tulisan kita dibaca ato diketahui orang terus kita bisa dapet feedback :3

waktu nulis ini tuh aku lagi seneng-senengnya sama manga “bokura ga ita” ato “here we are”. manga itu sudah lamaaa sekali memang tapi aku baru baca dan menikmatinya beberapa waktu lalu hhaha (udah pernah bahas soal manga ini juga di blog yang satu lagi) >.< pengen buat cerita yang bikin nyesek juga walopun ga senyesek cerita nana sama yano di manga itu :3 jadi ga heran kalo cerpen yang aku tulis ini paragraf pembukanya mengutip salah satu kalimat di manga itu. cuma pembukanya doang lho ya..setelah itu pure tulisanku sendiri 🙂

kalo dari segi penulisan..di sini masih banyak kesalahan seperti penggunaan kata “disini” ato “disana” yang seharusnya “di sini” dan “di sana”. hhehe. jujur belum tau soal itu sebelumnya -_- kemana saja dirimu sun di pelajaran bahasa indonesia ? hhahaha ><

just check it out now !

The Promise

“Kita hidup di dunia yang tidak bisa memutar kembali waktu dan menarik apa yang sudah terjadi.

Waktu… mengubah semua perasaan dan kenangan menjadi masa lalu, mengubah janji menjadi air mata dan mengubah sumpah menjadi sakit hati.

Kadang orang yang dirindukan… selamanya akan menjadi kenangan.

Kenangan… adalah hal yang diciptakan dari potongan demi potongan ingatan.

Ingatan… sama seperti melihat bayangan.” [1]

Upacara kelulusan SMA seharusnya menjadi salah satu saat yang paling membahagiakan dan berkesan bagi siapa saja dimana seseorang telah tumbuh semakin dewasa dan semakin dekat menuju mimpi yang ingin diraih. Tapi bagiku upacara kelulusan SMA justru menjadi akhir dari kebahagianku karena ditinggalkan orang yang sangat kucintai.

Sudah bertahun-tahun lalu sejak hari itu tapi tidak ada banyak perubahan disini. Pohon sakura di dekat gerbang yang menjadi simbol sekolah ini masih berdiri kokoh seperti dulu, bunga sakura masih setia menghiasi setiap musim semi yang datang, langit di atas sana juga tetap sama, tidak berubah seperti halnya hatiku.

Di bawah pohon sakura ini pernah terucap janji, di bawah pohon sakura ini pernah terdapat dua orang yang saling mengikat jari kelingkingnya, di bawah pohon sakura ini pernah menjadi tempat dimana aku dan dia saling menceritakan mimpi dan cita-cita yang salah satunya adalah bahwa aku dan dia bisa selalu bersama.

Tapi sekarang hanya aku sendiri yang berdiri di bawah pohon sakura ini, bernostalgia dengan masa lalu.

“Lama tidak bertemu, Kanami.”

Deg. Suara itu… apakah memang kenyataan atau hanya ilusiku? Aku menoleh ke asal suara. Ternyata benar. Dialah Kazuya, orang yang pernah mengucapkan janji di tempat ini bersamaku.

Tapi aku hanya dapat membelalakkan mata dan menutup mulutku dengan telapak tanganku saat melihatnya. “Kau… apa yang terjadi?” Dia sekarang menggunakan kursi roda.

“Kakiku? Kecelakaan. Sudah lama sekali,” jawabnya dengan tenang. Tatapan matanya masih teduh seperti dulu tapi aku menangkap segores kesedihan disana walaupun dia kini sedang tersenyum padaku.

“Kenapa kau tidak mengabariku?”

“Untuk apa? Kukira kau membenciku.”

Mungkin yang dia maksud adalah membencinya karena telah meninggalkanku. Kuakui bahwa aku pernah membencinya karena telah mengingkari janji dan meninggalkanku begitu saja. Tiba-tiba menghilang dan hanya mengirimiku sebuah surat perpisahan yang merupakan kenangan terakhir darinya.

“Yah… tapi aku tidak pernah bisa sungguh-sungguh membencimu Kazuya.” Karena aku tahu bahwa aku masih mencintainya.

“Maafkan aku Kana…”

Aku baru saja akan menjawab ketika seorang gadis menghampiri kami. “Ayah aku mencarimu dari tadi!” seru gadis itu pada Kazuya. Ternyata dia pun sudah menikah…

“Kana, dia anakku. Nami, ayo beri salam pada bibi.”

“Ah selamat siang!” Gadis itu tersenyum dan membungkukan badannya padaku.

Aku berusaha tersenyum. “Anakmu cantik sekali, pasti ibunya juga cantik.”

Kazuya tertegun “Dia…”

“Ibu!” Sebuah suara memotong kalimat Kazuya. Izuka, anakku dan suamiku Tetsu mengikuti di belakangnya. Tersenyum padaku. Aku pun sudah menikah.

“Pemberian penghargaan akan segera dimulai. Kenapa ibu masih disini? Aku ingin ibu melihatku.” Sekarang aku sedang menghadiri upacara kelulusan Izuka. Aku tidak menyangka bahwa anak Kazuya juga bersekolah disini.

“Kau sedang apa disini sayang?” tanya Tetsu setelah berada di dekatku.

“Aku… bertemu dengan teman lamaku,” jawabku sekenanya.

Setelah saling memberi salam, Kazuya pergi bersama anaknya. Bayangannya semakin jauh, aku tidak tahu apakah aku dapat melihatnya lagi, tapi setidaknya aku bisa tenang mengetahui bahwa dia sekarang bahagia bersama keluarganya sekarang walaupun aku bukan bagian dari kebahagiaannya lagi.

Aku kembali menoleh ke belakang. Dia sedang tersenyum bersama mereka, anak dan suaminya. Syukurlah, dia terlihat bahagia.

“Bibi itu… dia cinta pertama ayah yang selalu ayah ceritakan padaku kan?”

Aku hanya bisa tersenyum getir mendengar pertanyaan Nami, anak angkatku.

“Kenapa ayah tidak mengatakan yang sebenarnya saja padanya?”

Mengatakan alasan sebenarnya aku meninggalkannya? Bukan karena aku tidak lagi mencintainya, bukan juga karena gadis lain. Tapi kecelakaan itulah penyebabnya. Kecelakaan di hari upacara kelulusan SMA. Itu menyebabkanku lumpuh, aku tidak mau menyulitkannya, aku tidak pantas untuknya. Dia berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik. Dia tidak pernah tahu yang sebenarnya, biar saja dia menganggapku jahat, biar saja dia membenciku. Daripada dia harus merasa iba dan terjebak bersama orang sepertiku. Mungkin dia akan menerimaku apa adanya jika mengetahui yang sebenarnya, tapi aku hanya tidak mau membuatnya menderita.

Aku memegang tangan Nami yang sedang mendorong kursi rodaku. “Ayah tidak mau menjadi perusak kebahagiaannya.”

“Tapi ini tidak adil. Untuk ayah ataupun dia. Setidaknya dia berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi…”

“Tidak. Lagipula semuanya sudah tidak penting lagi. Dia telah memiliki kehidupannya sendiri. Seperti itulah takdir, tidak semua orang yang saling mencintai bisa bersama.”

Nami tidak berkata apa-apa lagi dan hanya memelukku dari belakang. Setidaknya aku tidak sendiri, aku memiliki Nami. Aku menyayanginya walaupun dia hanyalah anak angkatku. Aku tidak sanggup menikah atau mencintai wanita lain lagi selain Kana, bahkan aku menamai anakku dengan menggunakan nama belakang Kana: Nami. Kanami.

Aku tahu semua hal terjadi, setidaknya untuk sebuah alasan. Jika senyumnya adalah alasan itu, aku senang walaupun bukan aku yang mengukirnya.

[1] paragraf pembuka dikutip dari Bokura Ga Ita

-cherryblossom:)-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s