Tanggal 30

hallo readers! 🙂 jumpa lagi dengan cherryblossom di sini hhehe. kali ini aku mau posting salah satu cerpenku yang bergenre thriller–cerita thriller pertama yang kutulis hhaha >< well… cerpen ini diadaptasi dari pementasan teater berjudul ‘Paranoid’ yang pernah aku perankan bersama teman-teman TED (tedtot) -> Theatre of English Department 🙂 ya, aku sempat ikut organisasi teater di jurusan tapi sekarang karena beberapa hal aku jadi ga aktif lagi di sana *and to be honest… sometimes i do really miss them! :’)*

pementasan TED ini dalam rangka merayakan ulang tahun Sigma TV UNJ. TED diundang jadi salah satu pengisi acara di sana dan entah bagaimana, aku turut ikut menjadi salah satu pemeran dalam pementasan ini walo dengan akting yang pas-pasan hhaha -_-” jujur… itu kali pertama aku ikut pementasan teater kayak gini dan temanya adalah thriller >< karena bertepatan dengan (kalo ga salah) diskusi film ‘Rumah Dara’ juga.

aku nervous banget waktu itu *kapan sih aku ga nervous? -_-“* ditonton sama para senior TED bahkan Sigma dan banyak orang lainnya termasuk pembicara-pembicara yang diundang.

aku masih inget rasanya lengket dan bau oleh bau darah palsu yang terbuat dari susu dan cat saat itu. darahnya keliatan kayak beneran banget, sampe ada penonton yang nanya gimana bikinnya dan gimana triknya jadi bisa muncrat-muncrat gitu kayak ditusuk beneran ._. aku juga masih inget saat-saat latihan. latihannya ga lama: kurang dari sebulan, itu pun ga tiap hari ato tiap minggu. cuma di waktu-waktu menjelang pentas aja kita jadi lebih sering latihan sampe aku harus terpaksa nginep di kost’an Ito karena harus latihan malem di kampus (katanya biar dapet feelnya) walo awalnya ga diizinin nginep hhaha -_- ga akan lupa juga gimana geregetan dan serunya ngulang-ngulang adegan, kotor-kotoran, kerjasama, ketawa bareng yang menyenangkan dan lain-lain ❤ :’D

ohya, di sini aku berperan jadi salah satu korban si psikopat wkwk. makasih ya TED udah memberikanku kesempatan untuk tampil di sini. makasih juga buat semua pihak yang terlibat dan udah mendukung :*

BB6tmAqCMAEIaJJ

“Paranoid” di acara Sigma TV UNJ

Cerita: Hermawan

Sutradara: Jafar

Pemeran: Kak Ziah, Sarah Ito, Ratia, Sunny , Dita, dan Paul

ok then ini dia ceritanya (read it below). walo diadaptasi dari pementasan yang ide ceritanya adalah milik Hermawan dan disempurnakan oleh Jafar, tapi cerpen ini aku yang tulis sendiri dengan merombak dan menambahkan beberapa bagian hhehe. namanya aku ubah di sini, beberapa settingnya juga beda, terus motif pembunuhan dan ide tentang buku diary juga aku yang tambahin. well… mungkin cerpenku masih jauh dari sempurna. aku juga ngerasa teaternya lebih menegangkan darpipada cerpen yang aku tulis ini ._. maklum. pertama kali nulis cerita thriller hhehe. check it out!

Tanggal 30

Di sebuah ruangan yang gelap, seorang gadis tergeletak di lantai. Matanya terpejam dan tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Tidak, dia belum mati. Dia hanya tidak sadarkan diri.

Matanya perlahan membuka dan dia terdiam sesaat untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya lalu terbangun duduk setelah sadar sepenuhnya. Rasa panik mulai memasuki dirinya. Di mana ini? Kenapa dia bisa berada di sini?

Dia melihat sekeliling. Hanya sebuah ruangan tua dengan barang-barang yang tidak tertata rapi di setiap sudut yang berdebu. Dia menyentuh keningnya yang terasa sakit lalu merasakan darah di tangannya. Dia melihat darahnya sendiri dan menangis setelah mengingat sesuatu. Dia menundukkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk. Hatinya sesak merasakan perasaan yang bercampur aduk. Rasa sedih, rasa kehilangan, rasa takut, rasa marah, semuanya menjadi satu.

Tidak bisa begini, dia merasa harus melakukan sesuatu. Dia tidak mau selamanya terjebak dalam perasaan seperti ini. Dengan panik, dia meraba-raba sekitarnya dan menemukan ponsel yang tergeletak di dekat tas beserta isinya yang berserakan. Hatinya yang terasa sesak dan gejolak perasaan yang berkecamuk membuatnya tidak mampu melewati ini sendirian. Dia membutuhkan seseorang.

Orang pertama yang ada di pikirannya adalah Gita, sahabatnya. Dia menekan tombol panggil menuju nomor gadis itu dengan tangisan yang masih menemani rasa paniknya.

Terdengar suara di seberang sana. “Del, ada apa tengah malem gini telepon?”

“Gita, tolong aku…”

“Hah? Tolong apa? Kamu kenapa Del?” Gita mulai heran setelah mendengar suara sahabatnya yang terdengar bergetar di ujung telepon.

“Tolong aku Git. Aku takut…” Della terisak.

“Iya iya, kamu tenang dulu. Jelasin pelan-pelan, kamu kenapa? Ada di mana sekarang?”

“A… aku gatau. Aku sendirian. Aku takut…”

“Coba inget-inget lagi Del, jangan panik dulu,” ujar Gita. Mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu.

Della menghentikan tangisannya dan melihat ke sekelilingnya lagi. Dia baru sadar di mana dia berada.

“Gudang,” ujarnya lirih.

“Hah? Gudang? Gudang mana?”

“Sekolah.”

Sambungan telepon terputus. Tanpa pikir panjang, Gita pun segera bergegas untuk menyusul sahabatnya itu, takut sesuatu yang buruk telah menimpanya.

Setelah menutup telepon, Della terdiam kemudian matanya tertuju pada buku diary yang berada di dekatnya lalu diraihnya diary yang berukuran sedang dan bersampul merah marun itu. Terukir nama Della Delima di depan sampulnya. Della membuka diary tersebut dan melihat foto-foto orang yang disayanginya tertempel di setiap lembar halaman diarynya. Keluarganya, sahabatnya…

Della menangis lagi. peristiwa masa lalu kembali hadir di pikirannya.

30 Agustus 2011.

“Della, kok masih ada di kelas?” tanya Fia ketika dia kembali ke kelas untuk mengambil tasnya setelah selesai berlatih piano di ruang musik sekolah sampai sore yang sudah menjadi kebiasaannya.

“Menunggumu,” jawab Della singkat.

Fia menghampiri Della dan mengambil tasnya yang berada di samping Della.

“Menungguku? Kenapa? Tumben…”

“Karena sekarang hari istimewa,” Della tersenyum. “Kamu tahu sekarang tanggal berapa?” Della berdiri dari kursinya dan berdiri menghadap Fia.

“Tanggal 30? Ohya aku hampir lupa!” Fia memeluk Della.

“Happy birthday Della sa… Hmph.” Fia jatuh tak berdaya sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Seragam Della ternoda oleh semburan darah dari orang yang berada di depannya.

Della tersenyum lagi melihat Fia tergeletak di lantai dengan darah segar miliknya sendiri yang mengotori seragamnya serta pensil dan tangan Della yang baru saja digunakan untuk menusuk perut sahabatnya itu.

“Terimakasih.”

30 Agustus 2012

Silvi menghampiri Della yang berdiri sendiri di atap sekolah. Dia baru saja mendapat pesan dari Della untuk datang ke sana.

“Della!” Yang dipanggil tidak menjawab.

Silvi memegang lengan Della dan membalikkan tubuhnya untuk menghadapnya. Silvi terkejut melihat Della yang kaku dan matanya yang memerah seperti habis menangis.

“Eh kamu kenapa Del?!”

Della bergeming.

“Katanya kamu mau cerita? Ayo kita pergi dulu dari sini, baru cerita. Sekolah udah sepi Del… gerbang sekolah juga udah mau dikunci.”

Della tetap bergeming.

“Del kenapa sih? Ayo pulang!” Silvi membalikan tubuhnya dan pergi dengan tetap menarik Della.

Tiba-tiba, Della menarik Silvi ke belakang lalu mendekap mulutnya.

“Hmph! Del kamu kenapa?” ujar Silvi dengan suara yang tertahan karena mulutnya didekap. Silvi meronta-ronta, berusaha melepaskan diri tapi tubuhnya kaku setelah melihat pisau di tangan kanan Della.

Della membuka dekapan tangan di mulutnya.

“Del… kamu mau ng-ngapain dengan pisau itu?”

“Ssstt… kamu tahu sekarang tanggal berapa?”

“T-tanggal 30?”

“Ya. Tanggal 30. Haha.” Della tertawa getir lalu dengan cepat menggoreskan pisaunya ke leher Silvi.

“Aa…” Terdengar teriakan Silvi yang merupakan suara terakhirnya karena setelah itu dia terjatuh dan terbujur kaku.

Della tersenyum melihatnya. “Selamat tanggal 30.”

30 Agustus 2013

Hari ini

“Kalian semua… pasti sedang berada di surga sekarang. Dunia ini sangat kejam. Aku tidak mau kalian, orang-orang yang kusayangi… menderita,” ujar Della seraya menyentuh foto-foto yang dia tempel di buku diarynya.

“Tenang saja, saat waktunya tiba, aku akan menyusul kalian.” Della menutup buku diarynya lalu berbaring sambil mendekapnya dan dia pun tertidur.

Di tempat lain, seorang gadis berjalan tergesa-gesa menuju gedung sekolahnya untuk mencari sahabatnya. Tanpa dia sadari bahwa semakin cepat dia berjalan, semakin dekat dia menuju ajalnya.

Waktu menunjukan pukul 7 malam. Gita sampai di depan gerbang sekolahnya dan bertemu dengan satpam sekolah yang baru selesai berkeliling dan hendak pulang.

“Eh ngapain ke sekolah malem-malem neng?”

“Saya mau cari temen saya pak… bapak liat Della ga?”

“Della mana? Saya baru selesai berkeliling dan ga ada siapa-siapa neng di dalem. Lagipula sekarang udah malem, mana mungkin masih ada orang di sekolah?” tanya penjaga sekolah tersebut dengan heran.

“Della yang anak pindahan itu lho pak. Tadi dia telepon saya kalo dia ada di gudang sekolah.”

“Ga ada orang neng… ga mungkin ada orang di dalem. Sebaiknya sekarang neng pulang aja,” ujar penjaga sekolah tersebut seraya menggiring Gita pergi.

“Eh? Ga bisa gitu pak. Temen saya nungguin saya di dalem. Dia minta tolong sama saya!”

“Mungkin dia udah pulang neng, bahaya malem-malem sendirian di sekolah.” Satpam itu masih tidak mengizinkan Gita masuk. Dia mengunci gerbang dan menggiring Gita meninggalkan sekolah.

Gita tidak menyerah. Dia kembali lagi ke depan gerbang sekolah setelah berpisah jalan dengan satpam itu. Dia menelepon Della.

“Duh… Del angkat dong.”

Namun teleponnya tidak di angkat. Gita semakin takut bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa sahabatnya itu. Ketakutan akan kehilangan sahabat mengalahkan ketakutannya untuk masuk ke sekolah sendirian di malam hari. Gita pun memanjat gerbang sekolah. Dia berpikir bahwa tidak mungkin sahabatnya itu membohonginya atau mengerjainya. Walaupun baru mengenalnya setahun yang lalu, tapi Della sudah dia anggap saudaranya sendiri. Gita tahu Della hidup sebatang kara. Keluarganya sudah tidak ada lagi.

Gita berjalan dengan tergesa-gesa menuju gudang sekolah dengan penerangan seadanya dari telepon genggam yang dia bawa. Sesampainya di depan gudang, pintunya tertutup. Gita mencoba memanggil Della.

“Del? Della? Kamu ada di dalem?”

Tidak ada jawaban.

“Della?” Gita membuka pintu gudang tersebut. Tidak terkunci. Gita memasuki ruangan yang pengap dan gelap itu dengan tetap memanggil-manggil Della.

Gita hampir terjatuh karena tersandung barang-barang yang berantakan di gudang tersebut. Tangan Gita meraba-raba dinding, mencoba untuk mencari saklar lampu. Akhirnya dia menemukan sebuah tombol di dinding dan menekannya. Seketika, lampu pun menyala.

Kini Gita dapat melihat Della yang sedang tergeletak di lantai.

“Astagfirullah Della!” Gita secara refleks menjatuhkan tasnya dan berlari ke arah Della.

Dia mengguncang-guncang tubuh Della. “Del, Della kamu kenapa?!”

Gita membalikkan tubuh Della ke arahnya. Dia bisa melihat darah di kening Della yang terluka.

“Ya ampun Del kenapa bisa begini? Tunggu sebentar.” Gita berbalik ke arah tasnya. Berniat untuk mengambil apapun yang bisa digunakan untuk mengobati Della namun saat dia berbalik lagi, Della sudah berdiri di hadapannya.

“Della kamu udah sadar? Sebenernya apa yang terjadi sih Del? Kenapa bisa di sini?” tanya Gita seraya menghampiri Della namun langkahnya terhenti ketika melihat benda yang ada di tangan Della. Sebuah pisau.

“Buat apa pisau itu Del?”

Della tidak menggubris pertanyaan itu dan hanya tersenyum. “Terimakasih sudah datang, kamu memang sahabatku.”

“I… iya Del. Tapi sebaiknya kamu buang pisau itu lalu kita pergi dari sini. Ceritanya di luar aja…” ujar Gita dengan hati-hati. Dia mulai merasakan keanehan dalam diri sahabatnya.

“Pulang? Pestanya kan baru aja dimulai,” jawab Della dengan tetap tersenyum. Senyum yang entah mengapa membuat Gita merinding.

“Pesta? Pesta apa?”

“Kamu tahu sekarang tanggal berapa?”

“T-Tanggal 30?”

“Ya, tanggal 30. Haha tanggal kelahiranku.”

“Kan ga harus ngerayainnya di sini Del. Ayo kita pulang!” seru Gita, berusaha merebut dan membuang pisau Della tapi pipinya malah tergores pisau yang diayunkan oleh sahabatnya itu.

“Aw! Del kamu apa-apaan sih?!” Gita berteriak dan memegangi pipinya yang kesakitan.

“Di tanggal ini, setidaknya seseorang harus mati. Haha.” Della menyerang Gita lagi dengan pisaunya, namun kali ini Gita berhasil menghindar.

“Del kamu kenapa?! Inget, aku sahabat kamu kan?” Gita berjalan mundur menjauhi Della.

“Karena itulah, kamu harus mempersembahkan nyawamu sebagai hadiah ulang tahunku,” ujar Della lagi dengan wajah datar kemudian menerjang Gita. Gita mengambil sebuah kayu yang terdapat di sampingnya kemudian memukulkannya ke kepala Della.

Pisau yang Della pegang terjatuh dan Gita menendangnya ke arah lain. Melihat Della tersungkur jatuh, Gita segera berbalik untuk mengambil tasnya dan pergi.

“Kamu gila! Aku ga mau kenal sama kamu lagi!” Gita berjalan menuju pintu, tangannya baru saja mencapai kenop pintu ketika Della tiba-tiba menarik tasnya.

“Ah!” Gita terjatuh dan diseret oleh Della kembali ke tengah gudang.

Della mengambil pisau yang tadi terpental, Gita mengambil kesempatan itu untuk lari namun sebelum dia sempat berdiri, Della telah melemparkan pisau ke kakinya dan pisau itu tertancap di sana. Gita mengerang kesakitan.

“Kamu mau kemana sayang? Harusnya kamu merayakan ulang tahun sahabatmu…” Della menghampiri Gita lagi, mencabut pisaunya dan menusukkannya lagi ke kaki Gita.

“Aa! Cukup Del…” Gita meringis kesakitan dan merangkak mundur dengan kekuatan yang masih tersisa.

“Kamu siapa? Kamu bukan Della yang aku kenal!” Gita menangis.

“Hahaha Della yang sebelumnya kamu kenal hanya bersembunyi di balik topeng.”

“Ta… tapi kenapa Del?”

“Tidak ada yang tahu… tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi diriku. Bagaimana menderitanya diliputi perasaan bersalah, kehilangan, sekaligus haus untuk membunuh.” Kali ini Della mengatakannya sambil menangis.

Della menusukkan pisau yang dipegangnya ke perut Gita

“Aa…” Mata Gita terbelalak dan darah mengalir dari perut dan mulutnya.

Tangisan Della berubah menjadi tawa. Dia menikmati pemandangan menggenaskan di depannya. “Hahaha.” Della menusuk lagi perut sahabatnya itu berkali-kali hingga lantai, pisau, tangan, dan pakaiannya dilumuri oleh darah.

Setelah puas menusuk perut Gita yang kini sudah menganga, memperlihatkan organ dalamnya yang keluar, Della menjatuhkan pisaunya. Dia mengambil lilin yang sudah disiapkannya, menyalakannya kemudian memegangnya di atas perut Gita.

“Haha happy birthday… Della. happy birthday… Della. hihi… happy birthday… happy… birthday… happy birthday… Della…” Kemudian dia meniup lilin yang menyala di tangannya.

Della berhenti tertawa. Dia melihat wajah sahabatnya yang menggenaskan. Della menangis lagi. Dia memeluk mayat yang tebujur kaku di hadapannya.

Dia menangisi perbuatan dan nasibnya sendiri. Kenapa dia menjadi seperti ini? Della melirik ke arah buku diarynya yang terbuka dan memperlihatkan foto keluarganya. Mereka telah meninggalkan Della lebih dulu di hari ulang tahunnya 10 tahun yang lalu. Dibantai oleh beberapa orang yang memasuki rumahnya saat mereka sedang merayakan ulang tahun Della. Della kecil melihat bagaimana sadisnya orang-orang itu membunuh keluarganya saat bersembunyi di kolong meja. Dia hanya bisa menangis ketakutan… dia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya peninggalan buku diary yang merupakan hadiah ulang tahun dari orang tuanya.

Sejak saat itu, Della tinggal di panti asuhan. Keluarganya yang lain tidak ada yang mau mengurus Della. Della selalu merasa kesepian walaupun banyak orang yang berada di sekitarnya. Hatinya selalu terasa kosong… hingga pada suatu hari, di hari ulang tahunnya dia tidak sengaja membunuh teman satu kamarnya di asrama. Dia merasa bersalah tapi juga merasakan suatu perasaan yang aneh, seperti suatu kepuasan. Della tidak dihukum karena hal itu dianggap kecelakaan, namun dia mulai melakukannya lagi dan lagi tapi hanya di setiap hari ulang tahunnya dan hanya pada orang-orang terdekatnya.

“Ayah, ibu, kakak, sudah semakin ramai kan di sana? Aku sudah mengirimkan orang-orang baik hati untuk menemani kalian. Orang-orang yang kucintai, seperti aku mencintai kalian.”

Della meraih buku diarynya dan mencium foto keluarganya kemudian dia menangis. “Tapi aku sudah tidak sanggup lagi. Orang-orang yang kucintai semuanya telah pergi dari dunia yang kejam ini. Sekarang… izinkan aku untuk menyusul kalian.” Della tersenyum lembut kemudian menggoreskan pisau yang tajam itu ke pergelangan tangannya sendiri.

Della terjatuh lemas di atas mayat di depannya.

“Hadiah yang indah…” gumam Della pelan sebelum matanya terpejam sepenuhnya. Membiarkan darah segarnya mengalir habis.

Sebuah buku diary tergeletak di sampingnya. Terbuka ke halaman terakhir yang ditulis Della. Sebuah foto tertempel disana. Foto dirinya sendiri, di bawahnya tertulis:

Rest in peace… Della Delima 🙂

-cherryblossom:)-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s