Cerpen: Once Upon A Dream

Chatting.

sher

🙂

knp kak ?

gapapa, cuma negor

idk, kayaknya semalem gw mimpiin kamu deh (hahahaha) beneran

-.-

mimpi kayak gimana kak ? hhaha

ga ada detilnya, gw juga ga inget

yah pengen tau padahal hhehe

lain kali dicatet aja kak :p

gw catet kok

di memori brian

apa, apa ? 😀

iya entahlah, cuma sisa ingatan aja

kamu lagi duduk, dengan kepala tertunduk.

itu sih…

kok gitu ?

aku sedih ya ?

entahlah. gw juga gatau kan detilnya.

tapi kita fositif thinking ajah


*

Ada yang bilang bahwa mimpi adalah alam bawah sadar manusia, bahwa ketika kau memimpikan sesuatu atau seseorang, mungkin kau telah memikirkan sesuatu atau seseorang itu sebelum kau tidur. ‘Sesuatu’, sangat tidak enak didengar. Tidak apa-apa kan kalau aku pakai kata ‘seseorang’ saja? Kebetulan, yang ditulis di sini adalah mengenai seseorang.

Ahem. Oke. Seseorang.

Jadi, apakah itu berarti bahwa semua mimpimu adalah hal yang kau pikirkan sebelumnya? Tidak juga.

Kadang pernah kan kau bermimpi tentang seseorang, dan kau yakin bahwa kau tidak memikirkan tentang orang itu sebelumnya? Lalu jika demikian, bagaimana mimpi itu bisa muncul?

Ada juga yang bilang bahwa, jika kau bermimpi tentang seseorang, mungkin saja orang yang kau mimpikan itu, belakangan ini sedang banyak memikirkanmu. Yah, aku tidak begitu setuju dengan pendapat yang kedua ini sih. Bagaimana bisa orang lain yang banyak memikirkanmu, tapi mimpinya datang kepadamu? Pikiran ini terlalu tidak realistis. Coba saja taruh posisimu di seorang idola terkenal, yang memiliki banyak fans, yang mungkin saja saking kagumnya, memikirkanmu sepanjang waktu. Apakah mungkin mereka semua masuk ke dalam mimpimu?

Jika dibandingkan, memang lebih masuk akal pendapat yang pertama, karena Sigmund Freud bahkan sudah memberikan teorinya dalam psikoanalisis.

Tapi yang manapun itu yang benar, kurasa tidak terlalu penting. Yang penting adalah yang mana yang mau kau percayai.

Seorang romantis mungkin lebih mempercayai pendapat yang pertama, dan seorang yang putus asa mungkin akan mempercayai pendapat yang kedua. Ah tidak, aku tidak mengataimu putus asa. Yang aku maksud, siapa sih yang tidak senang memikirkan bahwa orang yang kau pedulikan dalam mimpimu itu memikirkanmu walaupun secara sadar kau mengetahui bahwa kemungkinannya kecil sekali?

*

“Apa sih yang lagi kamu tulis? Serius banget,” ujar sebuah suara yang muncul berbarengan dengan kepala seseorang yang melongok tiba-tiba ke laptopku.

Seseorang yang aku pikirkan ketika menulisnya. Tidak usah kau tanya betapa terkejutnya aku, aku hampir saja membanting laptopku karena itu.

“Bu-bukan apa-apa. Cuma soal mimpi.”

Yah kuberitahu saja sekalian, kalau aku bersikeras menyembunyikannya, pasti akan lebih mencurigakan. Lagipula, aku tidak mencantumkan namanya kok.

Untuk sesaat, dia membacanya, dan sebuah senyum tergurat di wajahnya ketika dia membaca itu.

“Apa senyum-senyum? Aneh ya? Udah, jangan dibaca!” seruku seraya hendak mengambil alih laptopku kembali.

Dia menahannya. “Apa sih, enggak aneh tahu. Tidak ada satu karya pun yang aneh di dunia ini.”

“Terus kenapa senyum-senyum?” tuntutku dengan wajah cemberut, yah kurasa aku membuat wajah cemberut, karena setelah itu dia berkata:

“Karena kau harus senyum juga, hehe. Ah urm tidak apa, aku cuma merasa kalau tulisan ini menarik. Mimpi ya…”

Aku terseyum, bukan karena mengikuti omongannya, tapi karena aku memang ingin tersenyum saat mendengar itu. “Ya, kau termasuk paham yang mana?”

“Gatau, gue ga terlalu peduli sama itu. Mimpi yah mimpi aja,” jawabnya.

“Urgggh, yayaya, katanya tadi menarik,” keluhku.

“Hahaha. Tapi soal tulisan ini, sepertinya akan lebih menarik kalo kamu tambahin unsur cerita di dalamnya.”

“Yah, this isn’t finished yet,” jawabku seraya mengambil kembali laptopku, kurasa aku akan melanjutkannya nanti ketika dia pergi.

*

Mimpi. Yah, kurasa pendapatnya memang benar. Tidak penting darimana mimpi itu berasal. Apakah orang yang kau impikan itu berada dalam alam bawah sadarmu atau kau berada dalam pikiran mereka, bagaimanapun kau telah memimpikannya, dan pendapat apapun tidak akan mengubah apapun.

Tapi sesungguhnya, alasanku tidak peduli akan hal itu adalah lebih karena aku merasa kami impas. Loh, apanya yang impas?

Let me tell you a secret, I’ve dreaming about you, too.

-cherryblossom:)-

Advertisements

2 thoughts on “Cerpen: Once Upon A Dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s