The love of an introvert.

Once upon a time, seseorang mengirimiku video ini. Katanya, sangat relateable buat dia. Lalu, setelah aku nonton, kok ya relateable buat aku juga 😂. Rasa-rasanya sih, video ini memang video yang relateable buat semua orang, terutama orang introvert ketika jatuh cinta 😐

Continue reading

Advertisements

Why.

​I guess I really can’t ever be angry to anyone. Although they hurt me, I’ll always think of the reason to forgive them. I may not want to talk with them and avoid them–only if I have to. But I won’t abandon people as long as I don’t have a reasonable thought to do so. And that’s why I always wonder why some people find it hard to do. Why so easy for them to leave people. And how can people just go and not be there anymore.

Sometimes, I want to be the one who’s angry. To be mad right back at people who’s mad at me. But instead of mad at them who can’t understand me (although I try so much to understand them), I’ll just always blame and blame myself. I blame myself for what people do to me. I mind other’s mind and feeling too much sometimes I forget that I also have a heart to be cared of.

Fvck it off. I’m doing the best I can to bring the best version of me. If they can’t see that, it should be their problem and not mine, right? People don’t have to like me, and I don’t have to care, right?

But that’s just a thought.

In fact, I’ll just always be a person who care too much. If not, I won’t be thinking about this until bother my time to write it in here.

Well, so much feeling huh 🙂

Kathelijn (Apresiasi)

Hai, Tuan (apakah betul ini panggilan yang sepadan untuk seseorang yang memanggil ‘Nona’?). Terimakasih untuk apresiasi cerpennya. Baru kali ini diriku mendapatkan komentar atas cerpen yang hampir sepanjang cerpen juga, jujur saja, haha. Jadi, biarkan aku membalasnya di sini karena tidak akan efisien jika komentar seperti ini dibalas di sebuah aplikasi obrolan. Dan lagipula, aku ingin meninggalkan jejak di blog ini bahwa aku telah membuat cerpen berjudul “Kathelijn” tapi terlalu malas untuk memperlihatkannya pada khalayak. Bukan karena tidak percaya diri (mereka bisa bebas membaca cerpen-cerpenku yang lain) tapi aku hanya ingin menunjukannya pada orang yang akan benar-benar memberikan apresiasi saja (:p)

Komentarmu pedas tapi sebenarnya…aku tidak terkejut, sih. Dirimu memang selalu pedas jika memberikan komentar, kenapa tidak menjadi seorang kritikus saja, eh? (:D). Pedas tapi tidak menjatuhkan, itu yang kusuka. Melalui komentar pedasmu itu kau justru ingin membangun, begitu yang kulihat. Tidak heran jika aku selalu senang untuk memperlihatkan tulisanku dan meminta pendapatmu, wahai Tuan Senior.

Continue reading

Portal Pembanding Asuransi Online, Cekpremi.com

Oke, agak keluar jalur dari postingan aku yang biasanya di blog ini, kali ini aku mau tulis soal review. Bukan review film atau review buku, tapi review soal salah satu layanan asuransi dari apa yang kerap disebut sebagai Portal Pembanding Asuransi, khususnya Cekpremi.com.

Apa sih yang dimaksud dengan portal pembanding asuransi itu?

Continue reading

Thankyou, Allah :)

I’m so proud of myself because I’m a strong girl. Well, not literally.

Aku gak bisa mengangkat lemari atau alat-alat berat lainnya sendiri,  aku juga masih sangat lemah dengan yang namanya olahraga. Tapi, bagiku kekuatan bukan hanya bisa diukur dari hal-hal semacam itu. Kuat, adalah ketika kamu mampu bertahan sesulit apapun situasinya.

Even with the weight of the world holding you down on your knees,

You cradled your tears like children and stopped looking for the nearest exit

Sign

I think that’s what called bravery.

And strength :).

I did it. I think, what’s really I should be proud of about 2016 (and another another past year) is that I survived. It’s not easy without a strength, tho. Aku berhasil menyelesaikan studiku dan lulus, melewati kehidupan kampus yang walaupun penuh dengan hal-hal yang menyenangkan dan pengalaman baru bersama teman-teman, juga sulit dan penuh perjuangan. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang bagus dan sesuai dengan passionku yaitu menjadi seorang penulis, beradaptasi dengan rutinitas baru yang walaupun awalnya begitu terasa melelahkan karena jarak yang ditempuh dari rumah ke kantor sangat panjang, aku mampu bertahan. I did it.

Mungkin itu terlihat sepele. Tapi bukankah ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa seseorang baru bisa tahu dan benar-benar mengerti apa yang orang lain rasakan jika dia berdiri di atas sepatu orang itu dan melalui jalan yang dilalui orang itu? Bahkan, meskipun hal itu bisa dilakukan pun, dampak yang terjadi pada setiap orang tetap bisa berbeda.

But, do you wanna try my shoes? Here:

Continue reading