Thankyou, Allah :)

I’m so proud of myself because I’m a strong girl. Well, not literally.

Aku gak bisa mengangkat lemari atau alat-alat berat lainnya sendiri,  aku juga masih sangat lemah dengan yang namanya olahraga. Tapi, bagiku kekuatan bukan hanya bisa diukur dari hal-hal semacam itu. Kuat, adalah ketika kamu mampu bertahan sesulit apapun situasinya.

Even with the weight of the world holding you down on your knees,

You cradled your tears like children and stopped looking for the nearest exit

Sign

I think that’s what called bravery.

And strength :).

I did it. I think, what’s really I should be proud of about 2016 (and another another past year) is that I survived. It’s not easy without a strength, tho. Aku berhasil menyelesaikan studiku dan lulus, melewati kehidupan kampus yang walaupun penuh dengan hal-hal yang menyenangkan dan pengalaman baru bersama teman-teman, juga sulit dan penuh perjuangan. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang bagus dan sesuai dengan passionku yaitu menjadi seorang penulis, beradaptasi dengan rutinitas baru yang walaupun awalnya begitu terasa melelahkan karena jarak yang ditempuh dari rumah ke kantor sangat panjang, aku mampu bertahan. I did it.

Mungkin itu terlihat sepele. Tapi bukankah ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa seseorang baru bisa tahu dan benar-benar mengerti apa yang orang lain rasakan jika dia berdiri di atas sepatu orang itu dan melalui jalan yang dilalui orang itu? Bahkan, meskipun hal itu bisa dilakukan pun, dampak yang terjadi pada setiap orang tetap bisa berbeda.

But, do you wanna try my shoes? Here:

Kamu bangun pagi-pagi buat shalat subuh dan berangkat kerja pagi. Kamu gak bisa naik motor, jadi kamu berangkat menggunakan transportasi umum. Kamu keluar rumah setelah pamitan sama orang tua, lalu berjalan sedikit menuju jalan raya untuk naik angkot, angkot yang akan membawa kamu menuju stasiun. Jaraknya jauh kalau macet (bisa hampir satu jam perjalanan), dan biasa saja kalau tidak macet (kurang dari setengah jam). Kamu sampai di stasiun, masuk, dan menunggu kereta yang bisa membawamu. Kadang, keretanya sangat penuh hingga kamu gak bisa naik (karena ngeri dengan jumpalan manusia di dalam dan persaingan masuk ke kereta), kadang kamu bisa naik di kereta yang penuh tapi kereta kian bertambah penuh dan kamu terhimpit, kadang keretanya kosong dan kamu dapat duduk, kadang keretanya kosong dan kamu gak dapat duduk, kadang seseorang yang duduk di depanmu turun duluan lalu kamu bisa duduk, kadang ada seorang pria (gentle) yang berbaik hati untuk bangun dan mempersilakanmu duduk. Kadang kamu dua kali transit kalau gak naik kereta yang langsung sampai tujuan, kadang kamu hanya perlu sekali transit aja. Sesampainya di stasiun tujuan, kamu jalan keluar stasiun melewati gang kecil pasar menuju jalan raya untuk naik angkot. Kadang kamu dibuat kesal sama angkot yang ngetem lama banget padahal kamu udah kesiangan, kadang kamu terjebak macet, kadang dari stasiun ke kantor estimasinya juga bisa mencapai satu jam. Lalu kamu sampai di kantor setelah jalan sedikit dari tempat turun angkot. Lalu kamu berjalan menuju ruangan kerjamu. Kamu kerja di kantor sembilan jam sehari dengan satu jam waktu formal istirahat dan berapa pun waktu fleksibel istirahat. Udah jam pulang, kamu siap-siap pulang. Kadang mesti pulang sendiri, tapi kadang ada barengannya. Melewati perjalanan yang sama seperti berangkat tadi. Sampai di rumah sudah malam (biasanya jam 10). Kamu capek. Kamu langsung masuk kamar setelah menyapa mama papa kamu. Kamu malas makan. Kamu mau langsung tidur, tapi kamu harus mandi dulu atau setidaknya lap badan dulu. Kamu bangun keesokan paginya. Lalu kamu mengulangi serentetan kegiatan di atas yang kini udah jadi rutinitas kamu.

Phew. Udah ngerasa capek (padahal cuma baca doang)? Hhaha.

Kira-kira begitulah rutinitasku sekarang. Sedih? Iya, kadang-kadang. Awalnya, sih. Capek? Pastiii. Awal-awal masuk kerja saja, dalam sebulan, aku pernah jatuh sakit atau drop sampai tiga kali. Sakit semacam flu atau gak enak badan gitu. Tapi… toh aku berhasil bertahan juga sampai masa probation aku ini selesai. Sudah lebih dari tiga bulan sejak pertama kali aku berkerja di sini. And now I’m officially Cekpremi’s.

Pernah ditanya begini sama atasan:

“Sunny, coba jawab dengan singkat dan padat pertanyaan saya ya, apa yang bikin Sunny mau tetep lanjut di Cekpremi?”

Jawaban:

“Karena udah nyaman.”

That’s it! Kenyamanan. Cekpremi mampu memberikan kenyamanan yang membuatku betah untuk kerja di sini dan berat buat ninggalin. Cekpremi mampu buat aku nyaman di dalam kantor sehingga segala kesusahan yang aku alami di perjalanan pergi dan pulang itu menjadi worth it.

So here’s the good thing or the good side of what seems like a burden to me.

Segera setelah aku lulus, aku langsung mendapatkan pekerjaan tanpa harus menganggur lama seperti kebanyakan temanku yang lain. Pekerjaan yang kudapat adalah pekerjaan yang baik dengan orang-orang baik di dalamnya, dan menghantarkanku untuk bertemu dengan beberapa orang yang luar biasa. Aku berkerja sesuai passion sehingga tidak sulit mengikuti ritme kerjanya. Aku belajar banyak hal dan diajari banyak hal di sini. Dan yang lebih penting, aku dihargai (in a good meaning).

I’m a journey people, tho. Aku sebenarnya sangat suka dengan yang namanya perjalanan. Kadang, aku bahkan menikmati perjalanan yang jauh ketika pulang-pergi ngantor. Sebuah buku di tangan dan earphone yang menghantarkan musik di telinga adalah apa yang paling aku butuhkan untuk membuat perjalanan yang jauh bisa dinikmati. Kadang, aku juga tidak mau membaca apa-apa, aku hanya diam sambil memperhatikan sekitar. Aku memperhatikan bagaimana orang-orang berinteraksi di kereta, di angkot, atau di jalan-jalan. Aku memperhatikan pohon-pohon, kucing-kucing, langit dan awannya, jalanan yang berbatu dan selokan (membayangkan aku adalah seekor semut dan berpetualang di sana), hingga hembusan angin yang menggugurkan daun-daun. Yea, I make fun from it. But also learn so much from it.

Really. Terkadang, apa yang langsung kamu alami itu bisa mengajari kamu lebih banyak dari apa yang tertulis di buku. Dengan pengalaman itu, aku belajar fakta bahwa betapa beratnya kehidupan ini, tapi, betapa hal-hal yang sederhana juga bisa memberikan kamu kebahagiaan (contoh: “Om telolet om” hhaha :D).

Aku pernah dapet pengalaman yang membekas banget dengan hanya melihat seorang kakek tua renta yang nangis sendirian di kereta. Dia gak pake sendal, pakaiannya compang-camping, dan dia bawa tongkat. Saat itu, aku udah duduk di kereta, menunggu kereta jalan. Aku lihat dia bersusah payah naik kereta dengan dibantu beberapa orang. Lalu, seorang pria di dekat pintu memberinya duduk (aku pun akan langsung berdiri untuk memberinya duduk jika dia di dekatku). Dia duduk sebelum diam-diam menangis beberapa saat kemudian. Ga ada yang tahu kalau gak memperhatikan. Tapi kebetulan, aku memperhatikan, memang kebiasaanku yang suka memperhatikan. Aku jadi tahu, dan aku jadi nyesel karena aku tahu. Soalnya, rasa sedihnya juga terasa olehku dan aku gak bisa lupa bagaimana tampangnya saat itu. Aku gak ngerti kenapa dia nangis. Mungkin dia sedih dengan kondisinya, atau fakta bahwa sudah setua itu… tidak ada sanak saudara yang mengurusnya? :’)

Aku juga pernah beberapa kali melihat orang yang fisiknya tidak sempurna di kereta. Tidak sempurna dalam artian cacat, maksudku. Dan aku dibuat kagum dengan betapa tegarnya mereka dalam menjalani hidup. Betapa mereka bisa mandiri dan masih bisa tersenyum walaupun kondisinya seperti itu :’)

Sungguh. Banyak sekali yang bisa kamu pelajari di jalan kalau kamu memperhatikan.

Hal inilah yang selalu buat aku sadar bahwa aku masih lebih beruntung daripada orang kebanyakan. Jadi, gak boleh ngeluh.

Sekali, dua kali, boleh. Tapi jangan terus menerus dan harus lebih mensyukuri apa yang ada. Aku sadar kayak gini emang gak bisa ngilangin capeknya aku di jalan (dan perasaan atau keluhan sedih itu kadang-kadang), tapi seenggaknya dengan begini aku bisa belajar buat jadi lebih kuat.

Life is actually about how you see it. Do you see the bad side, or the good side.

Aku hidup dengan baik sekarang. Aku bisa menulis postingan ini dengan nyaman di meja kerjaku, dengan keadaan sehat walafiat, terlindung dari panas yang menyengat di luar sana, ditemani musik dari video di YouTube yang sehari-harinya selalu kubuka, dan…secangkir kopi. Jadi, “Nikmat Tuhan apa lagi yang kamu dustakan?”

wp-1483447319608.jpg

Oh, aku lupa. Juga dengan dikelilingi oleh rekan-rekan kerja yang baik dan selalu membuat suasana kerja menjadi ceria walaupun kadang suka “membully” juga, hhahaha.

Thankyou, Allah :).

Advertisements

11 thoughts on “Thankyou, Allah :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s