The love of an introvert.

Once upon a time, seseorang mengirimiku video ini. Katanya, sangat relateable buat dia. Lalu, setelah aku nonton, kok ya relateable buat aku juga 😂. Rasa-rasanya sih, video ini memang video yang relateable buat semua orang, terutama orang introvert ketika jatuh cinta 😐

Yeah, you can say that I’m introvert, walaupun sifat introvertku ini enggak berlaku buat orang yang memang sudah dekat. Bahkan untuk orang baru atau orang yang baru dikenal, aku sebenarnya enggak menutup diri tapi terbuka kayak suka menyapa dan bertanya atau memulai percakapan–kadang. Walaupun (juga) frekuensi hal tersebut agak kurang jika lawan bicaranya adalah pria haha. I usually must know it first if he’s welcome to me or not. Mungkin fakta tersebutlah yang membuat hidupku kebanyakan jomblonya daripada berpasangannya (haha) 😅

I’ve ever had a boyfriend, of course. But (all this time) when I’ve a boyfriend, you can tell that I’m not the one who’s into him first.

Terlalu pemalu dan terlalu pemilih (dalam artian menakar mana yang benar-benar serius atau modus).

Maybe, too, that was what made my crushes were really just crushes.

The rhythm is just like the video above.

Now I wonder, if only I have ever had the guts to confess my feeling, would one of my crushes turn into a lover if I do something about it?

Aku pernah bertanya dengan seseorang mengenai hal ini, dari sudut pandang perempuan yang pernah menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Jawabannya adalah apa yang membuatku tambah membenarkan pemikiranku sekarang:

wp-1486212989582.jpg

I always think that a girl who fight for her feeling is cool, tho. But I’m not, not yet, can be like that… I think.

Dari yang kusimpulkan, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh tipe perempuan sepertiku ini adalah terus memperbaiki diri. Orang yang tepat akan datang.

Instead of waiting someone to give you flower, better to grow your own flower. And someone will come to take care of it.

Satu hal yang aku pelajari lagi: seseorang memang enggak bisa memilih pada siapa hatinya akan jatuh.

Kamu bisa saja kenal dengan seseorang yang lebih tampan atau lebih cantik, lebih baik, lebih pintar, dan lebih yang lain-lain. Tapi kalau hatimu enggak mau jatuh, dia enggak akan jatuh. Dan kadang, hatimu malah memilih orang yang enggak kamu kira sebelumnya. Kamu bertanya-tanya kenapa kamu bisa suka atau jatuh hati sama dia, padahal ada orang lain yang mungkin secara keseluruhan lebih baik atau kemungkinannya lebih besar buat dekat dengan kamu daripada ‘dia’–kurasa itu yang namanya benar-benar jatuh cinta. Cinta platonis, cinta tanpa syarat. Walaupun pasti ada beberapa hal yang menyebabkan cinta itu jatuh, cinta itu tidak melihat tampang, kekayaan, apalagi umur loh.

Advertisements

7 thoughts on “The love of an introvert.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s