Aku dan kopi :)

Tulisan ini terinspirasi dari seorang penulis favorit, penulis yang belakangan ini selalu membicarakan kopi sebagai inspirasi barunya. Tapi, aku bukannya mau membahas kopi seperti yang dia bahas, aku hanya mau menceritakan kisahku sendiri… bersama kopi 🙂

Kenangan pertamaku mengenai kopi sebenarnya agak lucu. Saat itu aku masih kecil, belum tahu apa-apa soal kopi, aku hanya tahu kopi sebagai minuman berwarna hitam pekat yang biasa diminum Bapak setiap pagi atau kapan pun itu waktu yang diinginkannya. Saat itu, aku juga sedang senang sekali bermain rumah-rumahan (dengarkan dulu, cerita ini nantinya akan berujung pada kopi 😛), aku sedang senang-senangnya bermain dengan segala hal yang seolah-olah menggambarkan diriku sudah dewasa seperti berpura-pura menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga haha. Hingga pada suatu hari, aku ingin berbaik hati membuatkan Bapak secangkir kopi. Aku ingat berjalan ke dapur dan mencari sesuatu yang berwarna hitam. Lalu aku melihat kecap, lalu kau pasti bisa menebak apa yang kulakukan: aku membuatkan kopi untuk Bapak dengan kecap. Kecap itu kucampur dengan segelas air, kuaduk, lalu kuberikan pada Bapak untuk diminum hahaha. Diriku yang polos saat itu mengira bahwa aku sudah membuat kopi dengan baik dan benar dan Bapak akan senang meminumnya. Namun, seperti yang bisa kau bayangkan, beliau kaget bukan kepalang dan serba salah menghadapi diriku yang menangis jika minumannya tidak diminum hahaha. I know, tertawalah, aku juga geli sendiri setiap kali mengingatnya… 😂

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal kopi dengan lebih baik (walau belum jatuh hati). Aku kemudian tahu kopi tidak hanya berwarna hitam pekat saja, ada yang berwarna coklat muda hingga coklat yang lain, berbeda-beda.

Aku lupa kapan dan bagaimana aku jatuh hati dengan kopi, tapi yang jelas, aku sekarang memang sudah benar-benar jatuh hati dengan kopi. Pasalnya, sekarang rasanya satu hari pun sulit terlewatkan tanpa menyesap secangkir (atau sekotak) kopi, lol 😑. Seperti seorang kasmaran yang setiap hari ingin mengetahui kabar kekasihnya (casik 😂)

Namun demikian, aku sempat merasa tertohok ketika mendengar cerita dari seorang teman bahwa tipe seperti ini belum bisa dibilang sebagai “pecinta kopi”. Pecinta kopi adalah seseorang yang sudah bisa begitu memahami rasa kopi. Tahu persis jenis sebuah kopi dengan hanya sekali sesap atau mencium baunya saja. Pecinta kopi bukannya orang yang gemar meminum kopi yang pada saat ini banyak beredar di masyarakat saja–yang sudah dibubuhi dengan campuran ini dan itu (misalnya kopi susu). Tapi, mereka yang suka rasa murni dari sebuah kopi tanpa bubuhan gula atau embel-embel yang lain. And I was like… “wow, itu bukan aku.” Aku enggak suka pahit 😭

Pernah pada suatu hari… (ini kejadian memalukan lainnya mengenai diriku dan kopi, sebenarnya). Aku yang sudah menganggap diriku sebagai pecinta kopi, masih kuliah dan kerja sambilan sebagai seorang guru privat yang muridnya selalu minta belajar di cafe, memesan secangkir Americano

Sama sekali tidak ada pikiran aneh apa pun pada saat itu, tidak sebelum melihat tampang pelayan yang cukup terkejut mendengar pesananku. “Yakin, Mbak, mau pesan itu?” tanyanya. Dan diriku dengan percaya dirinya mengangguk mantap dan tersenyum, lalu terpaksa harus menahan tampang kecut ketika mencoba rasa Americano hahaha. Pahit banget. Apalagi, saat itu aku masih sangat norak dengan tidak menambahkan gula cairnya terlebih dahulu 😂. Akhirnya hanya bisa mencoba tetap stay cool seolah-olah tidak salah pilih karena ke-sotoy-an ini…

Keesokannya, aku tidak pernah lagi mau memesan Americano atau sotoy  memesan yang aku tidak mengerti. Cappuccino pun menjadi menu andalan dan segera menjadi favorit. Bukan hanya karena rasanya, tapi karena warna coklatnya yang anggun dan juga keterampilan barista yang menggambar bagian atas kopinya. Sampai-sampai, karena terlalu paham atau hapal dengan kebiasaanku memesan Cappuccino, untuk selanjutnya ketika mengunjungi cafe itu untuk mengajar muridku yang lucu, aku tidak perlu memesan lagi. Cukup sekali lihat, lalu Cappuccino akan diantar ke mejaku. And for your information, all of it are for free. Semua yang kupesan dibayari oleh orang tua murid yang kuajar yang kebetulan merupakan pelanggan tetap yang dihormati di sana hingga aku curiga bahwa dia adalah yang punya cafe… (aku enggak pernah nanya).

Speaking of which, I kinda miss my role as a private teacher there. Kangen muridku, bocah laki-laki kelas 5 SD yang walaupun agak nakal dan susah belajar tapi juga gendut banget, lucu banget, dan sudah kuanggap adik sendiri 😦 Kangen juga suasana cozy dan pelayan-pelayan yang ramah, walaupun kadang suka genit juga 😑. I remember that one barista yang sengaja menanyaiku suka binatang apa, dan aku bilang kucing dan kemudian dia menggambarkan kucing di atas kopi itu untukku yang aku suka banget tapi sekarang jadi sedih juga karena sekarang kucing di kopi itu hanya menjadi kenangan, karena aku terlalu malu untuk mengabadikan kopi itu dengan mengambil fotonya… hahaha.

Ngomong-ngomong, kembali ke kecintaan pada kopi, walaupun bukan experts soal kopi, aku menolak pendapat mereka yang mengatakan bahwa “kau tidak pantas menjadi pecinta kopi jika kau belum tahu semuanya tentang kopi”. Aku tidak setuju karena, seperti cinta kepada manusia, cara cinta seseorang pada kopi pun bisa berbeda-beda. Kau tidak bisa mengukur kadar cinta seseorang dengan membandingkannya pada cara mencintai seseorang yang lain. Tiap orang berbeda, tiap orang memiliki caranya masing-masing. Mungkin ada yang dengan memahami dan menceburkan diri pada semua yang berkenaan dengannya, tapi ada juga yang menunjukannya melalui hal-hal kecil seperti tidak bisa melewati satu hari pun tanpanya, atau tanpa memikirkannya. ❤

Advertisements

5 thoughts on “Aku dan kopi :)

  1. Aku juga dulunya menganggap kopi adalah sesuatu yang tidak keren, itu miliknya orang tua. Tapi semakin aku membaca banyak buku, aku diperkenalkan secuil tentang kopi melalui buku-buku yang kubaca, aku sampai heran mengapa ada orang yang sampai begitu tau seluk beluk kopi karena kecintaannya akan kopi, lewat buku. Awalnya aku hanya ikut trend saja mencoba kopi once in a while, tapi lama2 aku pun menikmatinya. Sampai2 aku membeli buku yang judulnya “Onward” yang ditulis langsung CEO Starbucks. Hehehe, yah… dalam perjalanan kita pasti akam menemukan jawaban dari hal-hal yg membuat kita penasaran. Dan kita punya cara sendiri bagaimana kita belajar sesuatu dari kopi itu sendiri.

    btw, pasti penulis yang kamu maksud Bernard Batubara yah? 😊 Asal nebak saja sih, karena kebetulan timeline saya penung tentang kopi karena kak Bara. Hehehe

    Liked by 1 person

    • kalau justru dari awal menganggap kopi itu keren. cuma, belum terlalu mengenal aja waktu itu wkwk. sekarang sih aku udah bener2 nyemplung, walo masih gabisa dibilang expert soal kopi.

      and yeeesh, yg kumaksud kak bara! 😆 kamu suka juga ?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s