Luka Dalam Bara, Bernard Batubara

bernard batubara

Adalah buku yang bisa buat siapa pun jatuh cinta ketika melihatnya, aku bisa bilang. Bukan hanya karena covernya yang cantik, judulnya pun eye catching banget! Lebih lagi, buku ini ditulis oleh seorang penulis yang memang sudah terkenal, terutama dalam mengolah perasaan menjadi kata-kata yang… hmmm.

“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi kecemasan yang tidak perlu aku ungkapkan.”

Now you get the “hmmm” I mean? 🙂

Buat siapa pun yang cinta kata alias gemar baca pasti langsung merasa klik sama kutipan di atas. Enggak peduli seseorang yang dicinta mencintai kata-kata dan buku-buku atau tidak. Tapi ketika membaca kutipan itu aku malah mendapat kesan kalau “dia” yang bilang itu samaku, dia yang cinta aku karena aku cinta buku. Karena bagaimana pun, dia tahu aku cinta buku, dan buku sedikit banyak berperan dalam kisah kami lah curcol.

Jadi, kurasa, gravitasi terbesar buku ini untuk para pembaca adalah korelasi atau koneksi yang dirasakan pembaca dengan  kata-kata yang terangkai di dalam buku ini.

Sekilas, buku ini memang terkesan ingin menceritakan luka. Tapi tahu tidak? Nyatanya, buku ini malah menceritakan kisah-kisah manis.

Sama sekali tidak ada luka yang diceritakan di sana, kecuali sedikit cuplikan pertengkaran yang menggambarkan naik dan turunnya sensasi dalam suatu hubungan. Kecuali… ketika kisah-kisah semanis itu pada akhirnya tinggal kenangan saja, di situ lah kisahnya menjadi luka……

Aku tahu Bang Bara terluka (aku suka memanggil penulis yang satu ini ‘Bang Bara’ btw), tapi aku tahu soal itu bukan dari kisah yang dituturkan di buku ini melainkan dari ocehan-ocehannya di Twitter atau Instagram yang kufollow. Untuk pembaca yang belum pernah kenal Bang Bara sebelumnya, pasti sulit mengorelasikan antara judul dan isi buku ini. Mereka akan bertanya, “dari mana lukanya? Kisahnya  sungguh manis di sini.”. Lain halnya kalau mereka tahu atau membayangkan bahwa kisah itu sudah berakhir.

Tapi penyusunan buku ini juga benar-benar cerdik. Kalau kamu memperhatikan, di penggalan kisah yang terakhir ketika penulis mengisahkan kencan pertama dia dengan J, saat penulis mengantarkan J pulang, dia mengungkapkan betapa merasa beruntungnya dia akan kesempatan pergi bersama J itu lalu dia pamit. Lalu bukunya tamat. Lalu aku merasa itu seolah-olah adalah metafora tentang berakhirnya hubungan si penulis sendiri dengan J.

Bagaimana pun, efek yang bisa diberikan oleh buku pada pembacanya memang tergantung dari suasana hati pembaca, sih. Kalau kamu lagi patah hati, baca buku Luka Dalam Bara ini pasti bikin kamu baper, tapi kalau kamu lagi kasmaran, rasanya malah jadi berbunga-bunga hehe.

Yang jelas, buku Bang Bara ini adalah satu dari sekian bukti nyata manisnya kisah cinta yang diabadikan dalam buku. Dan kalau aku boleh membandingkan, Bang Bara justru lebih manis dibanding Dilan dalam novel yang sila kamu cari tahu sendiri itu novel apa ke Mbah Google kalau kamu belum tahu. Kelebihan buku ini juga termasuk ilustrasi-ilustrasi yang cantik dan somehow, bermakna.

Ya, seperti yang diakui Bang Bara di awal buku, buku ini bukan novel, kumpulan cerpen, juga puisi. Tapi penggalan-penggalan perasaan nyata yang diabadikan penulis ke dalam kata-kata lalu dikumpulkan dan dijadikan buku. Meskipun demikian, buku ini enggak melulu bicara soal cinta-cintaan. Ada pembicaraan mengenai politik, sesuatu yang berbau filosofi juga perenungan yang mostly relate-able.

Jujur, aku sering banget merasa relate sama penulis yang satu ini: alasan utama kenapa dia adalah salah satu penulis Indonesia favoritku selain karena tulisannya emang bagus. Beda juga dari penulis romansa lainnya seperti Dwitasari (aku kurang suka dia.) yang tulisannya selalu berbau romansa yang cheesy -I don’t like cheese either, tho :p-.

Hmmm apa lagi, ya? Kutipan yang paling aku suka? Banyak banget! Susah milihnya!

Tapi kayaknya Metofora Ombak (1 & 2), Kesedihan, Mencintai Topeng Seseorang, dan Tenggelam adalah yang paling aku vote. Hee~

+Bagaimana lautmu? Apakah dia tempat yang menyenangkan untuk menyelam? Ataukah dia membuatmu hilang napas dan tenggelam?

 

-Yang jelas, lautku saat ini telah menyelamatkanku dari laut yang dahulu pernah menenggelamkanku.

🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s