All the Bright Places

all the bright places

Ketika Finch dan Violet bertemu di tubir menara lonceng sekolah, tidak jelas siapa yang menyelamatkan siapa.

Satu kalimat dari sinopsis di belakang buku itu adalah yang menggerakkanku untuk beli bukunya. Di sinopsis diceritakan secara singkat mengenai dua karakter utama yang bermasalah: Theodore Finch yang terobsesi untuk mengakhiri hidup namun berhasil bertahan selama ini karena selalu ada setidaknya satu hal positif yang menghentikannya, lalu Violet Markey yang tidak mempunyai semangat hidup dan ingin segera pergi untuk meninggalkan masa lalunya di belakang.

Setelah baca sinopsis itu, aku langsung mau baca bukunya. Aku mau tahu bagaimana caranya “siapa menyelamatkan siapa” di sini. Aku mau tahu bagaimana kekuatan cinta bekerja untuk sesuatu yang sensitif dan menakutkan seperti “ingin mati”. Aku memang sedang mencari sejenis buku yang bisa menghangatkan hati. Dan dari judulnya, All the Bright Places–Tempat-Tempat Terang, sepertinya masuk ke kriteria buku yang kucari. Terlebih lagi, nama kedua karakter utamanya cantik sekali (iya, ini penting) dan sepertinya mereka ingin membawaku berkelana ke tempat-tempat terang.

Lalu, siapa sangka jika ternyata novel ini mengandung sisi kelam yang bertolak belakang dengan judulnya, tapi di sisi lain juga mempunyai sesuatu yang terang dan menenangkan?

ernest hemingway

Kutipan Ernest Hemingway yang ditaruh Jennifer Niven–penulis buku ini–di bagian awal buku sepertinya cocok menjadi perwakilan untuk seluruh cerita di buku ini. Buku ini bercerita tentang orang-orang yang bertahan, dari bagaimanapun jeleknya rupa kehidupan yang mereka jalani. Sudut pandang yang digunakan di buku ini adalah sudut pandang dari dua karakter utamanya, Finch dan Violet, secara bergantian. Mereka secara perlahan menceritakan hal-hal yang membuat mereka hancur tapi harus tetap bertahan.

Jujur, pada halaman-halaman awal, aku baca buku ini dengan mengantuk dan kecewa. Terlebih karena gaya terjemahan yang bukannya jelek tapi terasa kurang natural dan kupikir akan lebih menyenangkan jika aku membaca versi aslinya. Tidak ada sesuatu yang wah pada buku ini sampai aku menyadari bagaimana Jennifer mau membawa pembaca terhanyut ke dalam alur ceritanya. Dia akan mengajak pembacanya berkelana! Ke tempat-tempat yang mungkin terlihat sederhana namun indah jika diperhatikan secara lebih seksama, dan bahwa tempat-tempat itu bisa menjadi sangat berarti bagi beberapa orang yang menorehkan kenangan di sana. Sesuatu yang memang belakangan ini kurencanakan. Aneh, entah bagaimana aku dan sang penulis memiliki pikiran yang sama tentang berkelana. Aku memang berencana untuk meninggalkan jejak pada sebanyak apapun tempat yang bisa kudatangi bersama dia, walaupun tempat dan caranya tentu tidak benar-benar sama.

Theodore Finch dan Violet Markey mendapatkan tugas untuk mengunjungi setidaknya dua tempat di Indiana, mengeksplorasi dan melaporkannya sebagai tugas akhir di pelajaran Geografi Amerika. Sejak bertemu di langkan menara sekolah karena insiden bunuh diri keduanya yang gagal, Finch sudah tertarik dengan Violet. Finch seperti ingin menyelamatkan gadis itu dari keterpurukan yang dia tahu dengan baik bagaimana rasanya. Violet, sejak kematian kakaknya karena kecelakaan mobil yang dia pikir disebabkan olehnya, mengalami trauma yang membuatnya merasa tidak bisa mengendarai mobil dan menulis lagi. Sementara tugas ini adalah suatu hal yang meliputi keduanya; berkendara dan menulis. Tapi Finch akhirnya berhasil membuat Violet setuju untuk satu kelompok dengannya dan mengikuti peraturan berkelana yang dia buat.

theodore finch

Awalnya mereka hanya pergi ke tempat yang tidak jauh dan bisa dicapai dengan hanya menggunakan sepeda karena Violet tidak mau naik mobil. Mereka pergi ke Bukit Hoosier, titik tertinggi di Indiana, 383 meter di atas permukaan laut. Letaknya hanya 18 kilometer dari tempat mereka tinggal. Di sini, Finch membuat Violet mulai merasa bahwa tempat yang sederhana ternyata bisa sangat menakjubkan.

“Sebenarnya, berdiri di sebelahmu membuat tempat ini terasa setinggi Everest.” –Theodore Finch

 

Dia tersenyum pada pepohonan jelek dan tanah pertanian jelek dan anak-anak jelek seakan dia bisa melihat Oz. Seakan dia benar-benar dan sungguh-sungguh bisa melihat keindahan yang ada di sana. Pada saat itu, aku berharap bisa memandang lewat matanya. Aku berharap dia punya kacamata untuk diberikan kepadaku. –Violet Markey

 

Benda-benda yang kami tinggalkan yaitu beberapa koin Inggris. sekeping pemetik gitar warna merah, dan satu gantungan kunci Bartlett High. Kami menyimpannya dalam batu palsu untuk menyembunyikan kunci yang ditemukan Finch di garasi rumahnya. Dia menyelipkannya di sela-sela bebatuan yang mengelilingi titik tertinggi. Ditepisnya tanah dari kedua tangannya seraya berdiri. “Tak peduli kau mau atau tidak, kini kita akan selalu menjadi bagian dari tempat ini. Kecuali jika anak-anak itu ke sini dan mencuri dari kita.”

Setelahnya, mereka pergi mengunjungi tempat-tempat lain yang bagiku memiliki keindahannya sendiri, terutama di mata Finch dan Violet. Saat itulah aku mulai merasakan kehangatan yang merayap masuk di hati kedua karakter utama. Di sisi satu sama lain, mereka bisa merasa lebih baik. Dan aku tahu dengan pasti bahwa itu adalah sejenis perasaan yang tidak bisa timbul ketika kau bersama dengan orang yang berbeda. Kau harus mengalaminya dengan orang itu, kau harus pergi bersama orang yang tepat. Dan orang yang tepat bagi Violet adalah Finch, begitu pula sebaliknya.

Hidup Violet pun jadi lebih baik. Dia tidak takut lagi berkendara dengan mobil. Dia bisa kembali menulis. Dia tidak lagi menghitung hari untuk sampai ke hari kelulusan agar dia bisa pergi jauh dari Indiana. Dia mulai bisa menikmati setiap hari yang dilewati, bersama Finch.

Tetapi, seiring meluasnya dunia Violet, dunia Finch ternyata justru mulai menyusut.

Sial, ternyata ini buku yang sedih. Aku menyadari itu ketika sudah membaca lebih dari setengah bagian buku. Ada sisi kelam mengenai keinginan bunuh diri dan penyakit mental yang berhubungan dengan itu. Itu terjadi pada Finch. Yang dirasakan Finch ternyata lebih parah daripada yang dirasakan Violet, daripada yang bisa dikira Violet. Dia menolong Violet, tapi ternyata Finch lah yang lebih membutuhkan pertolongan. Alasannya silakan baca atau cari tahu sendiri.

Buku ini akan membuka matamu lebih lebar mengenai permasalahan mental yang kadang disepelekan. Bahwa sepele apa pun permasalahan orang dengan kelainan mental bagimu, hal itu sangat berdampak pada perasaan dan pola pikir mereka, dan pada akhirnya berpengaruh pada apa yang akan mereka lakukan. Kelainan mental yang dimaksud di sini adalah keinginan untuk bunuh diri. Buku ini membuatku terkejut dengan fakta-fakta yang dibeberkan penulisnya melalui hasil riset atau survei mengenai bunuh diri. Ini bisa jadi bahan bacaan yang kelam sekaligus memotivasi orang-orang di luar sana untuk keluar dari tempat-tempat gelap dan pergi ke tempat-tempat terang; melihat sisi terang dari setiap tempat dengan lebih baik.

Mengenai akhir, sulit memutuskannya termasuk ke kategori sedih atau bahagia. Violet toh berubah menjadi gadis yang sangat kuat dan menerima hidup dengan lebih baik di sini. Meskipun dunianya kini sangat berubah. Aku, sih, lebih condong ke sedih bacanya…

Seandainya segala-galanya binasa, dan dia masih bertahan, aku akan tetap ada; dan seandainya semua hal lain bertahan dan dia menghilang, alam semesta akan berubah menjadi sangat asing.

Kalau banyak buku dengan kejutan akhir yang menyenangkan setelah adanya duka, buku ini sebaliknya. Buku ini punya kelebihan menaik-turunkan emosi pembaca. Dari pembukaan kedua tokoh utama yang putus asa, menaruh harapan, bahagia, kesedihan yang kembali menyusup, hingga kesadaran dan kekuatan yang hadir setelahnya. Ini buku yang menyebalkan, tapi ini juga buku yang bagus.

Advertisements

9 thoughts on “All the Bright Places

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s