Tahapan rindu.

Baru saja terpikirkan beberapa tahapan–jenis rindu. Harus dituangkan di blog agar tidak lupa, entah teori ini diterima atau tidak.

Satu, rindu yang menyenangkan. Ditujukan untuk orang yang benar-benar membuatmu nyaman. Memikirkannya membuat hatimu berbunga-bunga, lalu tersenyum sendiri bahkan tanpa kamu sadari. Memikirkannya membuatmu merasa aman, membuatmu sejenak tidak memedulikan segala hiruk pikuk dunia atau kekhawatiran lainnya. Dia ada di situ, kamu rindukan…dan merindukanmu.

Dua, rindu yang menyebalkan. Ini untuk orang yang paling kamu pedulikan, yang karena beberapa hal belum bisa kamu temui atau hubungi seperti biasa, dan kamu tidak tahu apa yang dia rasa–merindukanmu juga atau tidak. Rindu ini menyebalkan, tapi dapat langsung terobati ketika sudah bertemu orang yang bersangkutan. Dan segala kekhawatiran sirna setelah hari yang menyenangkan.

Tiga, rindu yang menerbangkan angan. Kamu pergi ke suatu tempat, mendengar suatu lagu, atau melihat suatu hal yang mengingatkan kamu akan seseorang. Kamu rindu, teringat saat itu, lalu rindu itu hilang, seperti angan yang sudah terbang.

Empat, rindu yang menyesakkan. Melihat apa pun, pergi kemana pun, membuatmu teringat olehnya. Ada saja suatu hal yang menghubungkan ingatanmu tentangnya. Rindu ini sesak karena kamu tahu…itu semua tidak akan bisa terulang lagi, tapi kamu masih menginginkannya.

Lima, rindu yang ingin melupakan. Memikirkan orang itu terlalu menyakitkan sehingga kamu tidak mau membicarakannya lagi. Kamu membangun pertahanan diri, membangun dinding untuk menghalangi cahaya rindu yang dengan bandel ingin menyeruak masuk.

Kamu, sedang berada pada tahapan rindu yang mana saat ini? 🙂

Advertisements

Setiap tempat adalah kenangan.

Ketika kamu pergi ke suatu tempat, tempat yang kamu datangi tidak akan lagi terasa sama seperti saat pertama kali kamu mengunjunginya. Ada sesuatu yang bertambah di sana: kenangan bertemakan seseorang yang melebur jadi satu bersama tempatnya.

Jalan raya yang kamu lewati bukan hanya sekadar jalan raya lagi, tapi jalan dimana kamu akan tersenyum simpul mengingat betapa cerahnya siang hari itu saat bergurau bersamanya sambil melaju di atas kendaraan roda dua.

Pantai yang terlihat sama saja dengan pantai mana pun juga bukan sekadar pantai lagi, tapi tempat dimana dia pernah menumpahkan segala keresahan di hatinya padamu, dengan sejujur-jujurnya. Dan kamu menatap matanya, dengan seteduh-teduhnya, memberitahu padanya bahwa semua akan baik-baik saja.

Taman bermain yang selalu bising dengan suara–musik, teriakan gembira, dan tawa–nanti akan dipenuhi oleh suaranya saja: tawa renyah, dan nyanyian dengan lirik asal yang spontan dia ciptakan mengikuti nada musik yang diperdengarkan.

Kamu juga akan melihat sosoknya yang tersenyum di tengah taman bunga, dan menyadari bahwa betapa hari akan lebih indah jika pemandangan itu ada lagi di sana. Seolah kehadiran bunga-bunga di tempat itu tidak akan lengkap tanpa melihat senyumnya.