Tentang kematian dan kehidupan yang berlangsung setelahnya.

Saya menulis ini di meja kantor, menggunakan komputer kantor, sembari sesekali menatap apapun yang ada dalam jangkauan mata saya dari bangku saya di kantor. Beberapa waktu lalu, saya baru saja melihat dua kematian.

Rekan kerja di sebelah saya sedang berkutat dengan telepon genggamnya, seseorang baru saja berjalan melewati meja saya untuk mengambil air di dispenser, beberapa lainnya sedang bekerja atau menonton Captain America: The First Avenger di FOX Movies di televisi kantor yang memang selalu dibiarkan menyala. Dan beberapa waktu yang lalu, saya baru saja melihat dua kematian.

Dua kematian ini–walaupun terjadi di waktu yang tidak terduga–tidaklah mengejutkan. Tetangga saya sudah lama harus bolak-balik ke rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Terakhir kali saya menengoknya, badannya sudah kurus sekali dan dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Begitu pula nenek saya, atau lebih tepatnya merupakan kakak ipar bapak saya yang sudah saya anggap sebagai nenek sendiri.

Saya dan keluarga mengunjungi nenek pada perayaan Idul Fitri di hari pertama. Idul Fitri 2019 membuat saya sedih karena tidak ada lagi sambutan hangat senyum dan cium di pipi oleh nenek saya, beliau hanya terbaring lemah di tempat tidur tanpa tahu siapa saja yang berkunjung jika tidak ada yang memberitahunya.

Sebulan setelahnya, saya dan keluarga mengerumuni tetangga saya yang sekarat pada tengah malam karena dimintai bantuan. Malam itu, saya merapalkan doa dalam hati untuknya.

Namun, tepat beberapa hari lalu, kedua orang yang terakhir kali saya lihat sudah tidak berdaya itu…menghembuskan napas terakhirnya. Tetangga saya pertama, nenek saya kedua. Usia sudah menunjukkan adidaya yang tidak bisa dilawan, usia mereka dari Tuhan sudah mencapai batasnya.

Rumah yang sempat mereka tinggali pun diselubungi duka. Beberapa sosok terlihat dengan air yang menggenang di mata–beberapa membiarkan, beberapa langsung menghapusnya dan menggantinya dengan senyuman. Sebagian besar lainnya terlihat biasa saja walaupun mereka semua mengatakan mereka turut berduka.

Saya tidak dekat dengan nenek saya karena jarak yang membuat saya jarang berkunjung. Meskipun demikian, saya tahu dengan pasti nenek adalah sosok orang yang selalu baik pada saya dan mengatakan rindu ketika saya berkunjung ke rumahnya. Saya juga tidak terlalu mengenal almarhum tetangga saya, tapi beliau adalah orang yang selalu tersenyum dan menyapa setiap kami bertatapan muka. Saya tidak dekat dengan mereka dan kehidupan saya tidak akan banyak berubah sepeninggalannya, tapi saya tahu bahwa setelah ini sesuatu tidak akan lagi terasa sama. Rumah nenek tanpa kehadiran nenek bukanlah rumah nenek, rumah tetangga yang kini penghuninya berkurang satu orang pun pasti akan terasa beda. Ada sedih di sana, meskipun setelah itu grup WhatsApp keluarga besar kembali diisi oleh tawa, dan keluarga almarhum tetangga terlihat seperti biasa lagi pada saat kami bertemu di tukang mie ayam yang lewat di depan rumah.

Peristiwa ini membuat saya berpikir tentang kehidupan–yang ternyata sangat dekat dengan kematian. Tentang betapa hidup akan terus berjalan sepeninggal kematian seseorang, hingga nanti waktu akhir zaman digaungkan.

Saya selesai menulis tulisan ini pukul 17.45 WIB, tepat ketika teman saya membacakan berita kematian seorang selebriti bernama Agung Hercules pada pukul 16 sore tadi dan heboh soal berita kecelakaan mobil yang ditimpa oleh sebuah truk tanah. Inalillahi wa inalillahi roji’un.

Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk orang-orang yang sudah tiada. Besok, kita harus kembali bekerja.

8 thoughts on “Tentang kematian dan kehidupan yang berlangsung setelahnya.

  1. Inalillahi wa inalillahi roji’un, baru tahu dari sini bahwa Agung Hercules sudah meninggal. Sesekali juga saya dengar pengumuman orang meninggal dari speaker masjid. Walaupun enggak kenal mereka, sepatutnya itu jadi waktu mengheningkan cipta untuk merenungkan apa yang sudah dipersiapkan sebelum menyusul mereka.

    Liked by 1 person

    1. Iya kak :”) Setiap denger atau lihat kematian itu rasanya jadi tersadarkan bahwa kematian itu dekat, ya. Tapi setelahnya kehidupan terus berlangsung seperti biasa. Terus manusia lupa lagi. Terus tersadarkan lagi.

      Liked by 2 people

  2. Doain nenek aku di usia tuanya ya. Walaupun udah ga bisa ngelakuin pekerjaan berat, tapi Alhamdulillah masih sehat wal afiat. Hanya saja dia selalu pesimis kalau tahun depan (lebih tepatnya lebaran Idul fitri tahun depan) dia masih ada di dunia. Anak-anak dan cucu-cucunya selalu ngasih semangat dan berusaha buat dia senang, tapi ujung²nya dia selalu bicara tentang kematian dirinya yang tidak akan lama lagi. 😢

    Liked by 1 person

    1. Kaochan, maaf baru bales.

      Iya semoga nenekmu panjang umur dan lebih optimis lagi ya, aamiin. Yang penting habiskan waktu sebaik2nya aja sama nenek, tanya gitu apa yang dia suka atau yg dia mau lakuin tapi belum kesampaian. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s