Untuk seseorang yang tetap teguh dalam puisi.

Saya tidak tahu sejak kapan orang-orang mulai melabeli saya dengan puisi, tapi jika kamu bertanya soal saya pada orang-orang yang mengenal saya, satu atau dua pasti ada yang menjawab bahwa saya adalah seorang gadis yang mencintai puisi.

Mencintai puisi sebenarnya bukanlah sesuatu yang saya umbar kemana-mana, saya tidak berteriak pada setiap orang di jalan kalau saya menyukai puisi (karena setelahnya saya pasti akan dianggap gila). Kecintaan saya pada puisi bukanlah sesuatu yang saya maksudkan untuk terlihat keren, kecintaan saya murni karena saya bahkan tidak mempunyai alasan kenapa. Saya hanya merasa takjub setiap kali melihat keindahan dalam untaian kata, lalu saya meresapi setiap makna yang kadang sampai berhari-hari tidak bisa lepas dari kepala saya. Saya membayangkan puisi dari setiap hal besar dan hal kecil yang saya lihat, saya menyukai puisi sedemikian rupanya. Tanpa maksud. Tanpa sadar.

Mengutip ucapan seorang penulis yang membubuhkan tanda tangan pada foto yang saya pajang di tulisan ini:

“Saya tidak jatuh cinta pada puisi. Puisi yang jatuh cinta pada saya.”

Pernyataan Adimas Immanuel itu sedikit banyak merepresentasikan hubungan saya dengan puisi. Mungkin benar katanya, mungkin benar penyair adalah orang-orang yang dipilih puisi untuk mencintainya.

Dan saya adalah seorang pecinta puisi yang bangga.

Saya bangga lebih suka menyendiri bersama buku-buku dibandingkan beramai-ramai dengan orang.
Saya bangga bisa melihat jiwa dari setiap tulisan yang saya baca.
Saya bangga ketika saya merasa seolah-olah puisi berbicara kepada saya.
Puisi adalah teman saya. Kadang-kadang ada diri saya di sana.

Saya bangga meskipun saya menyadari bahwa, seperti kata Aan Mansyur, mencintai puisi adalah kutukan. Para penyair dikutuk karena harus menjadi orang yang terlalu perasa. Para penyair dibebani (atau saya bisa bilang di sini diberkahi) kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang melankolis. Para penyair ditugasi untuk berpikir kritis dalam mengolah hal yang sederhana menjadi bermakna. Para penyair adalah orang-orang terkutuk yang berbahagia.

Dan setiap penyair pun harusnya sadar bahwa keteguhan adalah hal yang paling penting untuk dimiliki karena: Masih banyak luka yang butuh dibuatkan puisi dan akan selalu ada sesuatu yang bermakna bahkan dari hal yang paling sederhana.

7 thoughts on “Untuk seseorang yang tetap teguh dalam puisi.

  1. Saya bukan penggemar puisi, enggak tahu cara mengapresiasinya, dan jarang terilhami untuk bikin juga, hehehe. Tapi sekalinya baca buku kumpulan puisi, ada beberapa yang cukup berkesan. Contohnya, sewaktu SMA, ada buku kumpulan puisi Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya juga suka buku kumpulan puisi Chairil Anwar yang Aku sama buku kumpulan puisi lawas (dari beberapa penyair) Senandung Bandung. Buku yang terakhir ini karena ngasih gambaran tentang keadaan kota saya sekitar hampir empat puluh tahun lalu, yang ternyata udah menyedihkan :’D (jadi lebih narik sisi informatifnya daripada estetisnya, hehehe).

    Liked by 1 person

    1. Berarti puisi belum jatuh cinta sama kak Day hehehe. Ajaibnya dari puisi itu, walaupun ada org yg bilang mereka bukan penggemar puisi, pasti ada satu atau dua bait yang kecantol ke mereka, kayak kak Day ini :p Walaupun hal yang terjadi setelahnya berbeda-beda, tergantung pengalaman pembaca.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s