Semasa: Bukan Sekadar Cerita Menjadi Dewasa.

“Terima kasih ya, ini buku terakhir Semasa lho untuk cetakan ini, tapi kami akan cetak lagi nanti,” ujar Mas Teddy selaku pemilik toko sekaligus penulis buku yang saat itu turut melayani transaksi pembeliannya.

Mendengar kalimat itu, seketika saya langsung merasa beruntung telah memutuskan untuk membawa buku ini pulang. Semasa, dua bulan yang lalu, tepat sebelum segala aktivitas dunia seakan diberi sekat oleh virus yang tak kasat mata.

Diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Mas Teddy dan Mbak Maesy, pasangan favorit yang sangat menginspirasi, pun adalah sebuah kebersyukuran tersendiri untuk saya. Terlebih lagi untuk mengenal Semasa, buku yang wajib dibaca bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke Post Santa.

TENTANG BUKU INI

Penulis: Teddy W. Kusuma & Maesy Ang

Penerbit: Post Press

Jumlah Halaman: 149

Sinopsis: Sepasang sepupu, Coro dan Sachi, tidak pernah mengira mereka akan dihadapkan pada hari Rumah Pandanwangi, rumah masa kecil mereka, harus dilepaskan.

Di sana mereka tumbuh besar, dan di sanalah kedua orang tua mereka pernah menganggap kehidupan akan tertambat selamanya.

Tapi dalam hidup mereka, seperti hidup orang-orang lain, pada akhirnya kata ‘selamanya’ bukan pilihan.

Mereka harus melangkah.

Manis. Hangat. Membekas. Tiga kata yang terpikir oleh saya selepas membaca Semasa.

Semasa adalah buku yang akan langsung mengingatkan pada memori masa kecil dan betapa itu semua terasa sangat jauh sekaligus dekat di waktu yang sama. Memori yang tidak akan terlupa, tapi tidak sanggup lagi kita jamah keberadaannya.

Memori dalam buku ini adalah milik Coro dan Sachi, kakak dan adik sepupu yang tumbuh bersama dalam keluarga kecil yang bahagia. Bapaknya Coro dan ibunya Sachi adalah kakak-beradik. Di dunia ini, mereka hanya hidup berdua, sampai masing-masing memiliki pasangan dan mempunyai anak yaitu Coro dan Sachi. Meskipun kakak-beradik itu tidak tinggal di rumah yang sama, mereka memiliki tradisi untuk berkunjung ke “Rumah Pandanwangi” setiap liburan tiba. Rumah Pandanwangi adalah rumah yang dibangun oleh Bapak Coro dan Ibu Sachi, rumah yang memang diniatkan sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat berkumpulnya keluarga, rumah yang dibangun di atas tanah peninggalan kakek tersayang mereka.

Kehidupan mereka berjalan layaknya keluarga bahagia pada umumnya, hingga waktu menemukan caranya sendiri untuk membuat beberapa perubahan. Coro dan Sachi yang sebelumnya sangat lengket pun perlahan berjarak, jarak yang semakin terasa jauh setelah Ibu Coro meninggal. Sementara itu, para orang tua masih sama seperti sebelumnya, hingga tiba pula saat bagi mereka untuk berpisah setelah Bibi Sari dan Paman Giofridis–begitu cara Coro memanggil orang tua Sachi–memutuskan untuk menghabiskan masa tua di Yunani, negara asal Paman Giofridis.

Di penghujung waktu perpisahan keluarga yang seakan tidak bisa terelakkan itu, mereka menghabiskan waktu bersama di Rumah Pandanwangi untuk terakhir kalinya sebelum rumah tersebut dijual. Dan di sanalah masing-masing tokoh dihadapkan pada dilema untuk mempertahankan atau melepaskan Rumah Pandanwangi. Keputusan yang tadinya sudah mantap seakan minta dikaji kembali. Kecuali bagi Bibi Sari, walau bukan berarti Bibi Sari tidak menganggap rumah itu berharga.

“Aduh, aku akan kedengaran seperti orang tua sok bijak, Coro, maaf ya. Tapi hidup memang seperti itu. Kamu melepas sesuatu, lalu memulai sesuatu. Rumah ini, bagaimanapun, ya, benda mati. Yang hidup itu kenangan di dalamnya, juga alasan-alasannya berdiri. Semua kedekatan emosional yang muncul darinya, juga terhadapnya, itu tidak akan lepas, tidak akan hilang. Aku akan mengenangnya terus-menerus, memeluknya erat-erat di hatiku, sampai kapan pun.”

Di cerita ini, terlihat betul bahwa tokoh yang paling dirundung sedih adalah Bapaknya Coro, orang yang paling tidak rela melepaskan Rumah Pandanwangi walaupun dia tidak mengatakannya.

Pernahkah Bapak dalam posisi meninggalkan sesuatu? Kucoba mengingat-ingat. Aku tak menemukan jawabannya. Ia ditinggalkan bapak dan ibunya di usia muda, lalu ibuku, cintanya satu-satunya, lalu Sachi, keponakan kesayangannya, lalu aku, yang walau masih mampir ke rumah sekali-dua kali, tidak pernah benar-benar berada bersamanya. Lalu kini, Bibi Sari dan kenangan-kenangan mereka di rumah ini.

Konflik yang dihadirkan dalam buku ini sederhana, tapi lebih dari cukup untuk mengoyak emosi; perasaan takut kehilangan, perasaan menerima kesendirian, hingga perasaan ketika terpaksa harus berdamai dengan perubahan.

Anehnya, buku ini tetap menghadirkan kesan manis yang membuat hati menghangat. Semasa bukan sekadar cerita menjadi dewasa. Semasa adalah buku yang menyadarkan bahwa kadang-kadang, perpisahan adalah jawaban. Dan seberapa pun itu menyakitkan, kita harus tetap melangkah ke depan.

Ohya, berikut ini beberapa kutipan favorit saya di Semasa:

Kapan kita mesti menarik garis untuk segala sesuatunya? Bahwa sesuatu menjadi urusan kita, atau tidak lagi menjadi urusan kita? Bahwa yang kita lakukan sudah cukup, atau kita masih harus meneruskannya sedikit lagi?

 

“Kau tahu, Coro, Sachi bahkan malas bicara lagi dengan Martini. Sachi anak yang pintar, tapi terkadang ia punya loyalitas buta seperti itu,” kata Paman Giofridis.

 

“Biarkan saja. Saat mereka sudah besar dan melihat ini lagi, mereka pasti ketawa-ketawa. Dan kalau mereka merasa humornya sudah tidak lagi sepayah ini, mungkin mereka merasa hidupnya tidak terlalu sia-sia,” kata Bapak.

 

Kenangan tidak melulu sesuatu yang nyata di masa lalu, kerap ia hanya tentang bagaimana kita memilih untuk mengingatnya.

 

Beberapa orang terberkahi dengan dunia kecil tempat ia bisa masuk dan menikmati kesendirian, lalu dunia luar menjadi kebisingan yang tidak lagi terdengar. Untuk Bibi Sari, dunia itu adalah memasak.

 

“Mungkin, sih. Tapi Sachi, pelan-pelan sepertinya aku mulai terbiasa membedakan hal-hal yang kuinginkan, hal-hal yang seharusnya, dan apa yang betul-betul kupunya.”

 

Aku dan Sachi saling memandang. Kulihat Sachi tersenyum lebar. Lebar sekali. Aku ikut tersenyum, walau kurasakan sesuatu mengganjal. Jauh di sana mereka masih berpelukan. Sayup-sayup kudengar tawa paman Giofridis yang besar. Aku tak bisa melihat wajah Bapak dengan jelas, tapi aku tahu, saat ini Bapak merasa begitu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s