6 ways to get rid of your sadness: a tips from me.

Satu, masuk ke dunia lain.

Maksudnya bukan pergi ke alam gaib tempat mahluk-mahluk gaib berada atau ikut tantangan uji nyali jika program reality showย itu masih ada, tapi masuk ke dunia lain: dunia selain dunia yang berada di dalam kepalamu–yang kamu pikirkan, sumber masalahmu berada, duniamu.

Aku sering mengandalkan dunia di buku atau film sebagai pelarianku. Terkadang dunia nyata itu memuakkan, dan walaupun dunia di dalam cerita, entah itu novel atau pun film juga penuh bahaya, like… seriously, memangnya enak tinggal di dunia yang ada penyihir jahat semacam Voldemort (Harry Potter) atau dunia dimana kamu dijadikan semacam tikus percobaan (The Maze Runner)? No. But somehow, it feels better there. Lebih baik menceburkan diri dalam petualangan di dunia yang akhirnya, biasanya, protagonis akan selalu menang dibandingkan dunia yang katanya punya pengadilan tapi tidak selalu seadil itu: dunia yang membuat kamu sedih.

Tidak harus cerita fantasi, sih. Cerita nyata milik orang lain juga terkadang bisa jadi obat untuk meredakan kesedihan. Selain membuat masalahmu terasa sepele (dibandingkan yang masalahnya lebih besar), kamu juga akan merasa kalau kamu tidak sendirian. Inilah sebabnya aku juga suka nonton film sedih ketika sedang sedih. It helps, really โ˜บ

Dua, jalan-jalan.

Yang ini maksudnya bukan menghabiskan uang untuk jalan-jalan ke tempat wisata atau hangout. Bagus kalau ada uang, bisa memanjakan diri yang sedih dengan cara itu. Tapi ketika tidak ada uang, sekadar jalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain (yang penting pindah posisi!) juga sangat membantu.

Aku pribadi suka sekali jalan-jalan dengan kendaraan umum, terutama ketika sedang sedih. Percaya atau tidak, aku pernah bulak-balik naik busway (#Transjakarta) Blok M – Kota dalam satu waktu (sudah sampai Kota balik lagi ke Blok M, sudah di Blok M balik lagi ke Kota, dst) hanya karena merasa nyaman di dalamnya. Kurang lebih seperti anak kecil yang tidak mau turun dari Odong-Odong hahaha.

Aku juga pernah naik bus patas AC Depok – Pulogadung (bus yang dulu biasa kunaiki ketika pergi atau pulang kuliah) hanya untuk menghilangkan rasa sedih padahal hari itu lagi tidak ada kuliah. Pun pernah juga aku jalan-jalan tanpa tujuan, membiarkan diriku dibawa oleh Transjakarta yang tidak kutahu mau kemana arahnya terus transit-transit aja sesuka hati tanpa takut nyasar (prinsipku adalah aku akan selalu aman tanpa tersasar selama aku ada di lingkupan jalur busway atau stasiun hehe).ย Karena bus, kereta, angkot–transportasi apa pun itu,ย they make me feel better.

Dan ketika kuceritakan ini pada sahabatku, tanggapannya: “Emang sih, Sun, kalo lagi sedih itu enak jalan-jalan. Pantes aja ya orang gila bahagia terus, kan dia jalan-jalan terus.” ๐Ÿ˜‚

Tiga, mendengarkan musik.

Bisa disambung dengan poin yang nomor dua. Jalan-jalan sambil mendengarkan musik juga salah satu obat terbaik untuk rasa sedih. Apalagi jika yang diputar adalah lagu yang sesuai dengan kondisi saat itu. Rasanyaย udah kayak aku adalah modelย music video lagu itu, atau lagu itu adalah soudtracknya aku ๐Ÿ˜€

Empat, ungkapkan.

Enggak mesti dalam bentuk cerita ke orang lain seperti sahabat atau orang-orang terdekat yang dipercaya, mengungkapkan kesedihan bisa dengan berbagai cara, menulis misalnya. Walaupun tulisan itu tidak ditujukan ke siapa-siapa atau kamu simpan sendiri dalam bentuk diary, akan terasa sama leganya seperti ketika kamu curhat ke orang lain. Bebanmu terangkat, bebanmu tercurah, tidak menumpuk dalam hati. Selain itu, kamu juga jadi punya record buat apa yang udah pernah kamu rasain itu, beberapa bulan atau tahun setelahnya, ada sesuatu yang bisa kamu baca sebagai pengingat dan sesuatu yang bisa kamu petik pelajarannya, agar tidak lagi jatuh pada lubang yang sama #Tsah.

Inilah salah satu alasan kenapa aku senang menjadi seorang penulis. Aku bisa bebas berekspresi melalui tulisan tanpa harus mengungkapkannya secara langsung, bisa melalui cerita bahkan puisi–walaupun aku jarang berpuisi karena bukan seorang pemuisi yang handal haha ๐Ÿ™‚

Lima, putuskan koneksi.

kadang, mengembalikan kebahagiaan itu hanya sesimpel mematikan hape, kemudian menikmati hari ini tanpa membicarakan esok atau kemarin

Betul? Sadar gak sih kamu kalau terkadang masalah atau kesedihan itu kamu sendiri yang ciptakan? Pikiranmu terkadang membuat sendiri masalah yang seharusnya tidak ada, khawatir sendiri akibat berpikir yang berlebihan. Dan, salah satu penyebab utama itu adalah smartphone yang kini selalu kamu bawa kemana-mana: benda kecilย yang menghubungkan kamu dengan dunia.

Begitu banyak otak dengan pikiran berbeda yang memainkan benda itu, terhubung denganmu melalui koneksi internet dan pada akhirnya mempengaruhi pikiranmu.

Aku sendiri sering sekali mematikan koneksi internet di HP atau membuatnya menjadi mode pesawat ketika sedang dalam perjalanan. Selain agar aku bisa lebih menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik tanpa terdistraksi oleh telepon genggam, aku juga jadi lebih bisa irit baterai haha. But seriously,ย memutuskan koneksi dari dunia luar lalu menikmati harimu tanpa perlu memikirkan atau menunggu kabar yang membuatmu gelisah akan membuat perasaanmu menjadi lebih baik ๐Ÿ˜

Last but not least…

Find your best position, hug whatever you can comfortably hug and… sleep.

Edited: Berdoa, jangan lupa berdoa. Dari semua tips-tips yang aku share di atas, enggak ada yang seampuh berdoa. Aku enggak taruh saran ini sebelumnya di postingan ini karena aku pikir berdoa udah jadi hal yang obvious banget bakal dilakukan oleh semua orang (yang punya kepercayaan). Just in case you forget this most important thing, I added this.

Advertisements

Aku dan kopi :)

Tulisan ini terinspirasi dari seorang penulis favorit, penulis yang belakangan ini selalu membicarakan kopi sebagai inspirasi barunya. Tapi, aku bukannya mau membahas kopi seperti yang dia bahas, aku hanya mau menceritakan kisahku sendiri… bersama kopi ๐Ÿ™‚

Continue reading

Conquering the city.

A curious and adventurous girl: something I’ve just discovered from myself. I realized it now from the way I feel towards any place with its adventure possibilities–when I thought about that.

I love to explore new places, I feel it cool to go somewhere alone. Also, I never feel like a lost child to be somewhere alone, instead, I feel like the main character of a book or a movie. Seriously, there are so much you can do by being alone. Capturing some random pictures, talking to strangers, learning something new, or simply just clearing your mind. Hence, here I dare myself to make a trip to a city I’ve never visited before alone, maybe Surabaya or Jogja, this year (I hope). Not easy, I know. My trip to Malang last year just easy because I have a friend there who took care of me, someone I dearly miss now.

Yes, I love to be accompanied by friends too, don’t get me wrong. But I’m just not a type of girl who will cancel my plan to go somewhere just because there’s no accompany. I just think “why don’t go there and find what I can find alone?”. You don’t always feel lonely by being alone because there’s a huge difference between ‘alone’ and ‘lonely’, though. 

Lately, too, I’ve been thinking about what an ideal happy life is. And I thought about a city, a strange city I’ve never visited before. But this city, however, scrathed a smile on my face. I imagined myself woke up in the morning on my warm and comfy bed next to a window where a friendly sunshine happily said hi to me. I will dressed up, ready to look around the city by my bicycle or even just take a walk then stopping by on a bookstore or a coffee shop. Better if there’s a park with a river to simply just enjoy the moments. Alone, or with a lover ๐Ÿ™‚

Syukur:

Setiap orang punya suatu hal yang harus disyukuri.

Setiap orang punya kekurangan, tapi juga punya kelebihan masing-masing yang patut disyukuri,

orang-orang mungkin lupa. Itulah sebabnya lebih banyak yang mengeluh daripada yang bersyukur,

tidak bisa disalahkan, karena sesuatu yang buruk memang lebih bisa mendistraksi pikiran dibanding sesuatu yang indah.

Kau hanya perlu melihat lebih teliti: di balik senyum “mereka”, pasti ada setidaknya satu resah di sana. 

Kau juga hanya perlu melihat dengan lebih teliti: di balik gundah dan keresahan, ada satu hal yang perlu kau syukuri.

(Seandainya setiap manusia memahami, setiap orang pasti akan berpikir seribu kali untuk menyakiti orang lain. Karena, setiap orang sudah berada pada masalah dan pertarungan hidupnya masing-masing.)

Why.

โ€‹I guess I really can’t ever be angry to anyone. Although they hurt me, I’ll always think of the reason to forgive them. I may not want to talk with them and avoid them–only if I have to. But I won’t abandon people as long as I don’t have a reasonable thought to do so. And that’s why I always wonder why some people find it hard to do. Why so easy for them to leave people. And how can people just go and not be there anymore.

Sometimes, I want to be the one who’s angry. To be mad right back at people who’s mad at me. But instead of mad at them who can’t understand me (although I try so much to understand them), I’ll just always blame and blame myself. I blame myself for what people do to me. I mind other’s mind and feeling too much sometimes I forget that I also have a heart to be cared of.

Fvck it off. I’m doing the best I can to bring the best version of me. If they can’t see that, it should be their problem and not mine, right? People don’t have to like me, and I don’t have to care, right?

But that’s just a thought.

In fact, I’ll just always be a person who care too much. If not, I won’t be thinking about this until bother my time to write it in here.

Well, so much feeling huh ๐Ÿ™‚

A Terrible Writer, Me?

I feel like a very terrible writer, I don’t even know if myself is worth to be called as ‘a writer’ anymore ๐Ÿ˜ฆ because for me, a writer is not just about “oh yes, I can write!” (if so, everyone–even a kid–can call themselves as ‘a writer’), but also about how is the result of the writing and how do you put your time to do such thing you said is very passionate about: writing. I barely write a story now, not like the old days. And when I do, I don’t feel like it’s satisfying, like “what kind of writing is this?! -_-“. I don’t know whyyy, is it just myself?

Recently, I wrote a story and published it on wattpad (my wattpad username is sunnycherryy, btw), then I gave the link for my friend to read but she said she don’t get it. I don’t know if now my writing skill is that bad, or it’s just a matter of ‘taste’. Everyone has a different taste of something, rite?

Tbh, I feel bad ๐Ÿ˜ฆ it’s not that I don’t get used on critics, honestly I’ve got the worst critics back then, but it’s okay, I even felt happy (because then I can learn from it). But now it’s more like… even myself is agree if my writing is nothing…

I miss the old days, when in a week I can produce even more than 3 stories ๐Ÿ˜ก where is it nauuu? Where is the spirittt? -.-

Anyway, go visit my kemudian account (www.kemudian.com) with the username ‘cherryblossoms’, if you curious about my writing back then, or visit my wattpad with the username I’ve mentioned before. And if you don’t mind, can you tell me your opinion of it?