Bukan puisi.

Kencan kemarin, sebenarnya aku agak ragu mengajakmu nonton Dilan

Yang memerankan Milea cantik sekali, sih–aku tidak mau kau memandangi cewek cantik selain aku (hahaha)

Ini alasan yang konyol

Tapi mungkin, aku memang takut cemburu

Kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri

Dan–mengutip dari Dilan lagi, aku memang sedang tidak percaya diri

Aku tidak bilang ini padamu, tapi sesungguhnya kekhawatiran yang tidak berasas apapun itu kemarin sirna ketika kau beberapa kali berpaling padaku

Walaupun di depanmu ada layar besar menyuguhkan Milea yang secantik itu

Hmm, kau memang tidak seromantis Dilan

Kau pun kadang merenggut ketika beberapa kali kukerjai dengan menyebut-nyebut Dilan

Tapi, kau tahu?

Bersamamu, tidak perlu menjadi Milea untuk merasa spesial

Karena hampir setiap bersamamu aku merasa semua orang di sekitar iri akan kita berdua.

Oh maaf, beginilah resikonya berpacaran dengan anak sastra: setiap tentangmu akan menjadi puisi

Eh tapi…ini kan bukan puisi, ya (hehe).

Advertisements

Mengulang Februari.

 

february

image source: weheartit.com

Aku akan selalu mempunyai rasa untuk bulan Februari. Bukan hanya karena ini adalah bulan kelahiranku, tapi juga karena aku sungguh merasa bahwa bulan Februari adalah bulan yang paling cantik dari semua bulan. Hm… mungkin dari namanya, dan jumlah harinya 😀 Cantik. Aku sampai merasa kalau pun tidak lahir di bulan Februari, aku akan tetap menyukai bulan ini lalu merasa iri pada orang-orang yang lahir di bulan Februari hahaha (iya, aku seaneh itu).

Dan 8 akan selalu menjadi angka favoritku. Kau bisa bilang aku aneh, tapi aku juga sungguh merasa bahwa 8 adalah angka yang cantik.

Aku bangga lahir di bulan Februari pada tanggal 8. Aku bangga sebentar lagi akan berhasil bertahan 23 kali mengulangi tanggal 8 di bulan Februari dengan utuh (aamiin). Dengan diri yang alhamdulillah menjadi semakin kuat setelah ditimpa asam dan manisnya kehidupan.

Sang Aquarius ini kadang terseret oleh airnya sendiri, tapi aku tahu pada akhirnya aku akan bermuara ke tempat yang tepat. Semua garis sudah ditakdirkan dan aku percaya pada akhir yang indah selama aku bersamaNya.

Kegagalan yang akan aku pertahankan.

Di suatu siang, aku pernah sangat kesal. Seseorang yang mengajak bertemu datang sangat terlambat. Sepertinya saat itu aku dibiarkan menunggu sangat lama di perpustakaan, sampai perpustakaannya tutup.

Satu jam, dua jam, mau tiga jam…

Tik-tok.

masih lama ? perpusnya udah mau tutup. aku mau pulang aja

; ketikku di pesan chat.

Eh jangan. Ini aku lagi otw kesana sekarang. Maaf baru selesai, ga nyangka lama banget ngurus berkas skripsinya

; balasnya.

Satu menit, dua menit…

Kamu masih disana kan?

; kirimnya lagi.

masih…

Selesai mengetik itu, rasanya mataku sudah berair. Rasanya saat nanti ketemu orangnya, aku mau menunjukkan tampang sangar, aku mau marah-marah pokoknya.

Tapi kenyataannya…

bibirku malah susah payah menahan senyum tepat ketika aku melihat orang itu menghampiriku tergopoh-gopoh dengan wajah bersalah yang (bagiku) teramat lucu.

Sebagai gantinya, aku menggigit bibir untuk menahan senyum–walau pada akhirnya tidak bisa tertahankan lagi ketika dia sudah mulai sejuta jurus andalannya untuk membuatku tertawa.

Di suatu waktu yang lain, aku pernah membuat kami hampir celaka di motor karena aku berusaha mengubah posisi kaca spion untuk menutupi senyum dan maluku yang gagal marah hanya karena dia memandangiku dari sana. (😂)

Iya, aku enggak pernah bisa marah-marah sama orang. Aku bisa marah, aku pernah marah, tapi aku enggak pernah bisa “marah-marah”. Terutama secara langsung. Terutama pada orang yang aku sayang dan aku pedulikan.

Dan aku tahu ini gila, tapi kurasa…

gagal marah padamu adalah sebuah kegagalan yang akan aku terus pertahankan

(selama kau masih mau meredakan marahku)

(dan selama itu masih bisa diterima oleh akal sehatku).

Ajaib.

Menurut pendapatku, semua orang mendapatkan satu keajaiban. Contohnya,  aku mungkin takkan pernah disambar halilintar, atau memenangkan Hadiah Nobel, atau menjadi diktator di suatu negara kecil di Kepulauan Pasifik, atau mengidap kanker telinga yang tak dapat disembuhkan, atau mengalami tubuh terbakar secara tiba-tiba. Tetapi jika mempertimbangkan semua hal-hal yang tak mungkin itu sekaligus, setidaknya salah satunya bisa terjadi pada masing-masing diri kita. Aku bisa saja melihat hujan katak. Aku bisa saja menapakkan kaki di Mars. Aku bisa saja dimangsa Paus. Aku bisa saja menikahi Ratu Inggris atau bertahan hidup bertahun-tahun di lautan. Tetapi keajaibanku berbeda: dari semua rumah di subdivisi di seantero Florida, aku tinggal bersebelahan dengan Margo Roth Spiegelman.

Yang di atas adalah keajaibannya Quentin di Paper Townsnya John Green.

Keajaibanku juga berbeda, keajaibanku adalah dirimu.

Ada begitu banyak keajaiban di dunia ini.

Salah satunya yang kulihat nyata, adalah pertemuan kita.

Ada begitu banyak orang yang bisa kutemui di dunia; di bus, di kereta, di pertokoan, di jalan-jalan, dan sebagainya.

Tapi Tuhan mempertemukan kita.

Dan memutuskan “kita” untuk terjadi.

Betapa ajaibnya ketika, dari beribu pasang mata dan kaki yang bisa kutemui di dunia, hatiku hanya terpaut pada dirimu.

Ketika hatimu memilih seseorang yang juga telah memilihmu dengan hatinya: bisakah kau menyebut ini tidak ajaib?

love

image source: weheartit.com

What do they feel inside?

You’ll never know what people keep inside; their thought, their feeling.

A girl, beautiful and sweet, always carry a lovely smile everywhere and give it to every people she meets, just confessed to me that she actually planned to kill herself at least ten times a day.

And I just couldn’t believe it.

I believe it, but I don’t believe it. I know it is possible, but I can’t give myself the answer of such an acceptable reason for that thought.

How could she?

She’s surrounded by so many people who love her–including me. She has such a great life and she always has a smile on her face every time I look and talk with her. And no matter how much I think about it, her life is indeed luckier than me in some aspects. How could she think of suicide?

But when I think about it again, it actually makes sense. Because I, you, everyone, just can’t know what other people feel inside. They might tell you, but sometimes you just still won’t understand the exact feeling since you don’t stand in the same shoes. They are the one who experienced the things that make them feel that way, not you.

Now I ask you: what do you think about me? What do you think about the life I live?

Some people told me that they see me like a water, so calm; a book, so open; a sun; so bright. Some people even ever told me: “Don’t you have problems?”, “Have you ever angry? I never see you angry.” and such things. Before, I just laughed and thought how funny those questions are. But now I think those questions are actually acceptable because people just will never ever know what other people feel inside.

So can you just please be kind to everyone you meet? A smile is so simple, but it could eventually brighten someone’s bad day. Can you please, don’t be so mean, say anything that is rude, or hurt others? They are fighting a battle you know nothing about.

I’m an open book. My best friends said it is so easy for them to notice whether I’m happy or sad, and perhaps it is easy for you to notice too if you know me.

But have you ever thought of the idea that me, sometimes, cry myself to sleep, in the middle of the night?

Why Do We (I) Love Harry Potter

There was an odd moment when I mentioned one of the most popular and favorite characters in Harry Potter to my boyfriend and he didn’t even have a single clue about who it was.

“…just like Hermione.”

“Who is Hermione?” said he, and there were about three blinks of eyes of me trying to process what I just heard.

(WHO IS HERMIONE?)

Continue reading